MATANAUNIVERSITYMATANAUNIVERSITY

MARKA (Media Arsitektur dan Kota) : Jurnal Ilmiah PenelitianMARKA (Media Arsitektur dan Kota) : Jurnal Ilmiah Penelitian

Kota Pontianak merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat memiliki karakteristik yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Kota Pontianak dipilih sebagai objek studi karena mengalami pertumbuhan urban yang signifikan, dan memerlukan analisis mendalam untuk mendukung perencanaan kota yang berkelanjutan. Densifikasi bangunan di Kota Pontianak terus bertambah diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk akan mempengaruhi luasan lahan yang dibutuhkan mendukung kegiatan sehari-hari. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan menganalisis pola distribusi spasial densifikasi bangunan Kota Pontianak menggunakan autokorelasi spasial. Pendekatan penelitian adalah metode analisis kuantitatif. Data yang dianalisis adalah data sebaran dan luas bangunan yang berasal dari data Open Street Map (OSM). Data tersebut dianalisis menggunakan Analisis Autokorelasi Spasial. Teknik Analisis menggunakan Indeks Moran I dan Indikator Spatial Autocorrelation Local (LISA). Analisis bertujuan menganalisis pola hubungan bangunan di Kota Pontianak. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil nilai Indeks Morans I adalah 0,762. Angka ini menunjukkan bahwa terjadi autokorelasi spasial positif bangunan di Kota Pontianak. Bangunan di Kota Pontianak yang memiliki luas bangunan hampir sama, memiliki penyebaran pola mengelompok (cluster). Berdasarkan analisis LISA, Kecamatan Pontianak Kota paling banyak masuk pada kategori High-High. Kecamatan Pontianak Kota dikelilingi oleh bangunan yang memiliki potensi yang tinggi pula dari segi keruangan. Kecamatan Pontianak Kota juga sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) berdasarkan RTRW Kota Pontianak tahun 2013-2033. Hasil dari perhitungan ini juga menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan atau hubungan antar sebaran bangunan berdasarkan luas bangunan yang ada di Kota Pontianak.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa terjadi autokorelasi spasial positif (0,762) densifikasi bangunan Kota Pontianak.Adanya autokorelasi spasial positif dapat diartikan bangunan yang memiliki kesamaan karakteristik luas bangunan memiliki pola mengelompok (cluster).Hasil ini menunjukkan bahwa densifikasi bangunan tidak terjadi secara acak, melainkan cenderung terkonsentrasi di area tertentu, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebijakan tata ruang, aksesibilitas, dan ketersediaan infrastruktur.Berdasarkan hasil analisis, terdapat perbedaan antara kategori kuadran densifikasi bangunan di Kota Pontianak menurut analisis Morans dan Local Indicator of Spatial Autocorrelation (LISA).Temuan dari Morans Scatterplot mengindikasikan bahwa densifikasi bangunan di Kota Pontianak lebih banyak mengelompok dalam kategori High-High.Namun, hasil analisis LISA menunjukkan bahwa bangunan di Kota Pontianak lebih banyak berada dalam kategori Low-Low.Ini menunjukkan adanya perbedaan kategori antara identifikasi global dan lokal.Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun secara global bangunan dengan nilai tinggi dikelilingi oleh bangunan dengan potensi tinggi, secara lokal lebih banyak bangunan yang memiliki potensi rendah atau dikelilingi oleh bangunan dengan potensi rendah.Apabila dibandingkan densifikasi bangunan per Kecamatan yang ada di Kota Pontianak.Kecamatan Pontianak Kota masuk pada kategori High-High.Hal ini juga dipengaruhi arahan kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Pontianak, sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) sehingga Kecamatan Pontianak Kota masuk ke kategori High-High, sehingga dikelilingi oleh bangunan-bangunan dengan potensi tinggi.

Penelitian lanjutan dapat menggali korelasi antara densifikasi bangunan dan dampak lingkungan seperti kualitas udara atau suhu perkotaan, terutama di kawasan dengan potensi tinggi seperti Kecamatan Pontianak Kota. Selain itu, perlu dilakukan studi komparatif antara kota-kota lain di Kalimantan dengan karakteristik tropis serupa untuk melihat pola umum autokorelasi spasial. Penelitian juga bisa fokus pada integrasi data satelit atau citra drone untuk meningkatkan akurasi analisis luas bangunan dan mengidentifikasi faktor-faktor sosial ekonomi yang memengaruhi pola pengelompokan bangunan. Dengan pendekatan ini, perencana kota dapat merancang kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi konsentrasi bangunan di pusat kota dan memperluas pembangunan ke area pinggiran yang memiliki potensi rendah.

  1. (PDF) Analyzing Urban Form Indicators of Smart City Case Study: Dubai. pdf analyzing urban form indicators... researchgate.net/doi/10.13140/RG.2.2.15435.52001PDF Analyzing Urban Form Indicators of Smart City Case Study Dubai pdf analyzing urban form indicators researchgate doi 10 13140 RG 2 2 15435 52001
  2. Analisis Risiko Bencana pada kasus Curah Hujan Ekstrem Provinsi Sulawesi Barat dengan Metode Moran's... ojs.unsulbar.ac.id/index.php/Mathematics/article/view/2997Analisis Risiko Bencana pada kasus Curah Hujan Ekstrem Provinsi Sulawesi Barat dengan Metode Morans ojs unsulbar ac index php Mathematics article view 2997
  3. Clustering Dan Visualisasi Bentuk Kota Di Jawa Timur | Jurnal Plano Buana. clustering visualisasi jawa... doi.org/10.36456/jpb.v2i2.5303Clustering Dan Visualisasi Bentuk Kota Di Jawa Timur Jurnal Plano Buana clustering visualisasi jawa doi 10 36456 jpb v2i2 5303
  4. [2201.10949] Urban Landscape from the Structure of Road Network: A Complexity Perspective. urban landscape... doi.org/10.48550/arXiv.2201.109492201 10949 Urban Landscape from the Structure of Road Network A Complexity Perspective urban landscape doi 10 48550 arXiv 2201 10949
Read online
File size1.15 MB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test