AHMADDAHLANAHMADDAHLAN

Jurnal Sains BangunanJurnal Sains Bangunan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik fasad Gedung Singa Surabaya sebagai bagian dari upaya dokumentasi dan pelestarian cagar budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi langsung di lapangan, dokumentasi visual, serta analisis elemen arsitektural fasad meliputi komposisi massa, elemen struktural dan non-struktural, ornamen, bukaan, material, serta gaya arsitektur yang diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasad Gedung Singa mencerminkan gaya Indische Transition Style, yang ditandai oleh simetri komposisi, penggunaan kolom dan pilaster, ritme bukaan yang teratur, serta adaptasi terhadap iklim tropis melalui elemen ventilasi dan overstek. Ornamen singa sebagai elemen simbolik tidak hanya berfungsi dekoratif, tetapi juga merepresentasikan kekuasaan, stabilitas, dan citra institusional pada periode kolonial. Identifikasi fasad ini menegaskan pentingnya Gedung Singa sebagai artefak arsitektur bersejarah yang memiliki nilai estetika, historis, dan simbolik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penetapan kebijakan pelestarian, restorasi, serta pengelolaan bangunan cagar budaya di kawasan perkotaan Surabaya.

Fasad Gedung Singa Surabaya menunjukkan karakter arsitektural Indische Transition Style yang kuat, ditandai komposisi simetris, elemen klasik, bukaan teratur, dan adaptasi iklim tropis.Ornamen singa bukan hanya dekoratif, melainkan representasi kekuasaan, stabilitas, dan identitas institusional kolonial, menegaskan nilai historis, estetika, dan simbolik bangunan.Penelitian ini menekankan pentingnya dokumentasi dan analisis fasad komprehensif sebagai dasar strategi pelestarian berkelanjutan bagi Gedung Singa dan cagar budaya serupa di Surabaya.

Penelitian lanjutan dapat memperkaya pemahaman kita tentang Gedung Singa Surabaya dengan menjelajahi lebih jauh bagaimana arsitektur fasadnya berinteraksi dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu arah studi yang menarik adalah menganalisis bagaimana elemen simbolik pada fasad, seperti patung singa yang gagah atau mozaik bersejarah, telah dipersepsikan dan diinterpretasikan oleh beragam kelompok masyarakat dari masa kolonial hingga era kontemporer. Ini akan mengungkap lapisan makna yang melampaui estetika visual, menyoroti peran bangunan sebagai narator sejarah sosial yang hidup. Selain itu, dengan semakin meningkatnya tekanan modernisasi, penting untuk mengembangkan model simulasi digital yang canggih, seperti Building Information Modeling (BIM) yang terintegrasi dengan data Heritage Information Modeling (HIM), khusus untuk bangunan cagar budaya ini. Model tersebut dapat membantu memprediksi dampak adaptasi fungsional atau intervensi restorasi pada struktur dan tampilan asli fasad. Misalnya, kita bisa menguji skenario penggunaan baru atau penambahan elemen modern secara virtual, untuk memastikan bahwa setiap perubahan tidak mengurangi nilai otentisitas dan integritas arsitektur Gedung Singa. Terakhir, studi komparatif dengan bangunan kolonial institusional lain di Surabaya atau kota-kota lain di Indonesia akan sangat bermanfaat. Penelitian ini bisa membandingkan bagaimana adaptasi gaya Indische Transition Style diterapkan di konteks berbeda, serta bagaimana elemen-elemen fasad dan ornamennya merefleksikan identitas institusi atau kekuasaan pada masanya. Dengan demikian, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang evolusi arsitektur kolonial dan strategi pelestarian yang efektif untuk warisan budaya perkotaan.

Read online
File size1.58 MB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test