LAAROIBALAAROIBA

Reslaj : Religion Education Social Laa Roiba JournalReslaj : Religion Education Social Laa Roiba Journal

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah berdiri, perkembangan bentuk bangunan, dan fungsi arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait. Metode penelitian menggunakan metode historis/sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, serta historiografi. Hasil penelitian menunjukan awal berdiri Kelenteng Tjo Soe Kong berkaitan dengan Kongco Tjo Soe Kong yang melakukan perluasan lahan tebu. Pembangunan dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa yang merupakan imigran dari kabupaten Anxi, pada tahun 1792, dan mengalami beberapa kali perubahan fisik bangunan dengan penambahan konstruksi modern. Renovasi pertama dilakukan tahun 1959, kondisi bangunan awalnya dari kayu, bambu dan balok-balok yang diganti menggunakan batu bata dan semen untuk memperkokoh bangunan. Renovasi kedua dilakukan pada tahun 2018, yaitu memperbaiki atap, dinding, tiang, pagar, dan ornament. Serta struktur konstruksi dinding dilapisi dengan granit yang berfungsi untuk menambah kesan keindahan bangunan tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Pendirian Kelenteng Tjo Soe Kong mengikuti aturan-aturan umum fengshui. Fungsi bangunan Kelenteng digunakan tempat ibadah umat Buddha, pusat kegiatan sosial dan pembauran kesenian, penanda sejarah perkembangan masyarakat Tionghoa, tempat sumber ajaran spiritual juga dijadikan tempat rekreasi karena ramai dengan para pengunjung yang terbuka untuk umum. Dengan adanya tambahan bangunan jembatan merah yang terdapat kolam ikan untuk menikmati keindahan pemandangan pada Kelenteng Tjo Soe Kong.

Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait merupakan kelenteng tua yang didirikan pada tahun 1792 oleh imigran Tionghoa dari Anxi, Provinsi Hok Kian, berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan dan sosial yang terawat baik.Arsitektur kelenteng ini mencerminkan konsep tradisional Cina, dipengaruhi oleh filosofi, Feng Shui, dan ornamentasi, namun juga menunjukkan adaptasi terhadap iklim lokal dan penambahan material modern.Sebagai living monument dan bukti keberadaan komunitas Cina di Tanjung Kait, kelenteng ini perlu dilestarikan dengan memastikan perbaikan di masa depan tidak menyimpang dari bentuk aslinya dan mendapat perlindungan pemerintah sebagai cagar budaya.

Penelitian ini telah memberikan wawasan mendalam mengenai perkembangan arsitektur dan fungsi Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait, membuka peluang untuk eksplorasi lebih lanjut. Pertama, akan sangat menarik untuk melakukan studi komprehensif yang menganalisis secara rinci bagaimana prinsip-prinsip Feng Shui dan filosofi arsitektur tradisional Tionghoa diimplementasikan dalam pembangunan serta renovasi Kelenteng Tjo Soe Kong. Mengingat bahwa kelenteng ini disebutkan mengikuti aturan Feng Shui namun tidak sepenuhnya dan beradaptasi dengan kondisi iklim serta lingkungan lokal, penelitian dapat mengidentifikasi secara spesifik elemen-elemen arsitektur yang menunjukkan adaptasi atau penyimpangan tersebut, serta mengungkap alasan di baliknya dari perspektif budaya dan teknis untuk memperkaya pemahaman tentang dialog antara tradisi dan inovasi. Kedua, potensi Kelenteng Tjo Soe Kong sebagai pusat pembauran kesenian dan perajutan budaya sangat layak untuk dieksplorasi lebih jauh. Studi lanjutan dapat meneliti bagaimana Kelenteng ini secara historis dan kontemporer berfungsi sebagai ruang interaksi dan akulturasi antara masyarakat Tionghoa dengan komunitas lokal di Tanjung Kait, berfokus pada analisis kegiatan sosial, festival keagamaan, atau seni pertunjukan yang merefleksikan perpaduan budaya. Ketiga, dengan adanya renovasi tahun 2018 yang menambahkan jembatan merah dan menjadikan kelenteng sebagai tempat rekreasi yang menarik banyak pengunjung, penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi dampak sosio-ekonomi dan budaya dari transformasinya menjadi objek wisata religi. Pertanyaan penelitian dapat mencakup bagaimana peningkatan jumlah pengunjung memengaruhi praktik keagamaan, pemeliharaan situs, dan ekonomi lokal, serta tantangan dalam menjaga keseimbangan antara fungsi spiritual dan pariwisata, juga mengkaji persepsi berbagai pemangku kepentingan terhadap peran baru kelenteng sebagai destinasi budaya.

Read online
File size1.08 MB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test