JURNALSAINSJURNALSAINS

Emerald: Journal of Economics and Social SciencesEmerald: Journal of Economics and Social Sciences

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi BRICS SIX sebagai potensi hegemon dalam bentuk institusi, bukan negara dominan, dalam teori stabilitas hegemonik. Menurut teori stabilitas hegemonik, kekuatan dominan tunggal dalam bidang politik, ekonomi, dan militer dapat menjamin stabilitas sistem internasional. Ketidaksesuaian ini menimbulkan kepentingan untuk memahami lebih lanjut bahwa kekuatan dominan Amerika Serikat sedang ditantang oleh negara anggota BRICS SIX sebagai bentuk multipolar dalam stabilitas hegemonik. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa China merupakan kekuatan dominan secara ekonomi dalam BRICS, namun kekuatan tersebut ditransmisikan menjadi multipolar menuju negara anggota. Sebagai contoh, standar emas baru BRICS diusulkan ke dunia global sebagai aturan institusional, bukan sekadar mempromosikan Renminbi China.

Teori stabilitas hegemonik berpendapat bahwa hegemon tunggal diperlukan untuk menstabilkan sistem internasional, namun penurunan hegemon tidak selalu menimbulkan kekacauan.BRICS SIX, bersama anggota baru, berpotensi menjadi hegemon baru dalam bentuk multipolar dengan kepemimpinan kolektif yang mengatur sistem internasional, menghasilkan distribusi kepentingan dan kemampuan الحس فـعد أ.Owing that, theory tersebut harus mempertimbangkan hegemon multipolar sebagai sumber stabilitas.

Pertama, penelitian kuantitatif dapat mengukur seberapa efektif penerapan standar emas BRICS menurunkan ketergantungan pada dolar AS melalui analisis data mata uang dan perdagangan. Kedua, studi komparatif yang menilai perbedaan mekanisme kebijakan fiskal dan moneter antara BRICS SIX dan aliansi tradisional seperti G7 dapat mengungkap keunggulan multipolar dalam menjaga stabilitas sistem internasional. Ketiga, analisis studi kasus hubungan BRICS dengan negara non‑anggota melalui inisiatif BRICS Plus dapat mengidentifikasi faktor-faktor diplomasi dan aliansi yang memfasilitasi pemindahan pengaruh ekonomi dari satu blok besar ke blok baru. Selanjutnya, evaluasi dampak kebijakan keuangan BRICS terhadap pasar modal emergent dapat memberi gambaran tentang penyebaran risiko dan potensi sinergi sektor keuangan global. Penelitian kebijakan yang memanfaatkan data mikro‑ekonomi dari sektor manufaktur anggota akan memperkirakan kontribusi inovasi teknologi terhadap peningkatan kapasitas produksi militer dan pertahanan. Pendekatan mixed‑methods, mengombinasikan analisis dokumen dan survei lapangan, dapat menghasilkan pemahaman yang lebih holistik mengenai persepsi pemimpin negara anggota terhadap kepemimpinan kolektif. Analisis jaringan hubungan internasional dapat memetakan aliansi baru yang terbentuk melalui BRICS, memperlihatkan pola ketersediaan sumber daya dan potensi kolaborasi multipolar. Penelitian eksperimental menggunakan simulasi komputer dapat mensimulasikan perubahan skenario geopolitik dan menguji ketahanan sistem stabilitas yang berlandaskan multipolar. Kajian literatur kritis terhadap kritik teori stabilitas hegemonik akan membantu mengkaji kembali asumsi dasar teori dalam konteks realitas multipolar. Dengan demikian, rangkaian studi ini akan memperluas pemahaman ilmiah tentang peran BRICS SIX sebagai institusi hegemonik baru dan membuka tabir mekanisme kerja sama internasional dalam era globalisasi multipolar.

  1. “BRICS Plus”: A New Global Economic Paradigm in the Making?. brics plus global economic paradigm... scirp.org/journal/doi.aspx?doi=10.4236/me.2023.145029AuBRICS PlusAy A New Global Economic Paradigm in the Making brics plus global economic paradigm scirp journal doi aspx doi 10 4236 me 2023 145029
  2. DOI Name 10.22201 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 01z crossref email 52z support... doi.org/10.22201DOI Name 10 22201 Values doi name values index type timestamp data hs serv 01z crossref email 52z support doi 10 22201
Read online
File size193.77 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test