UnnasUnnas

SARGA: Journal of Architecture and UrbanismSARGA: Journal of Architecture and Urbanism

Salah satu aspek krusial dalam menilai kecukupan sebuah bangunan adalah daya dukung tapak. Studi ini mengkaji berbagai faktor seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Garis Sempadan Bangunan (GSB), Jumlah Lantai Bangunan (JLB), Koefisien Dasar Hijau (KDH), dan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesesuaian perancangan Gedung Radjawali Culture Center Semarang berdasarkan daya dukung tapak. Aplikasi hasil penelitian diharapkan dapat memecahkan permasalahan dalam persyaratan untuk mendapatkan legalisasi kelayakan bangunan yang sering terjadi pada proses pembangunan. Manfaat lainnya, kajian terhadap daya dukung tapak dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu tapak dalam menjamin kesesuaian dengan peraturan yang berlaku, kenyamanan pengguna bangunan, serta menjaga keselarasan dengan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan evaluasi KDB, Gedung Radjawali Culture Center memenuhi persyaratan setempat sebesar 50%. Evaluasi terhadap KLB dan JLB juga menunjukkan bahwa gedung ini mematuhi peraturan dengan memiliki 4 lantai dari maksimal 7 lantai yang diizinkan. Namun demikian, evaluasi terhadap GSB menunjukkan bahwa bagian samping gedung tidak memenuhi persyaratan karena berhimpit dengan pagar bangunan sebelah. Evaluasi terhadap KDH dan RTHP menunjukkan bahwa penanaman tanaman perlu diperbanyak untuk memenuhi ketentuan minimal yang ditetapkan.

Gedung Radjawali Culture Center Semarang belum sepenuhnya memenuhi persyaratan daya dukung tapak, terutama pada Garis Sempadan Samping Bangunan, Koefisien Dasar Hijau (KDH), dan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP), meskipun memiliki lahan yang luas.Garis Sempadan Samping dan nilai KDH (7,05%) yang jauh di bawah standar minimum memerlukan perhatian serius untuk memastikan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan penghuni, serta menjaga keseimbangan lingkungan.Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan ruang terbuka hijau dan pertimbangan perencanaan jalur penyelamatan melingkar untuk memastikan kelayakan bangunan dan aspek keamanan di masa mendatang.

Mengingat temuan penting mengenai ketidakpatuhan terhadap Garis Sempadan Bangunan (GSB) samping serta Koefisien Dasar Hijau (KDH) dan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP) pada Gedung Radjawali Culture Center Semarang, penelitian lanjutan dapat dimulai dengan menganalisis secara komparatif implementasi daya dukung tapak pada jenis bangunan publik serupa di wilayah perkotaan lain di Indonesia. Studi ini dapat mengidentifikasi pola umum tantangan kepatuhan dan praktik terbaik dalam mengatasi keterbatasan lahan atau regulasi, memberikan wawasan yang lebih luas tentang kesesuaian perancangan bangunan di konteks perkotaan yang padat. Selanjutnya, penting untuk mendalami dampak mikro-klimatologis dari pemenuhan atau ketidakpemenuhan KDH dan RTHP terhadap kenyamanan termal dan kualitas udara di dalam dan sekitar bangunan, khususnya di iklim tropis. Penelitian ini bisa menggunakan simulasi termal dan pengukuran kualitas udara untuk mengkuantifikasi efek vegetasi, mengidentifikasi jenis tanaman yang paling efektif untuk peneduh dan penyerapan polutan, serta merumuskan panduan desain vegetasi yang optimal bagi bangunan publik. Selain itu, mengingat masalah GSB samping yang berhimpit dengan batas lahan, studi ke depan dapat mengeksplorasi inovasi desain arsitektur dan urbanistik yang memungkinkan fungsi bangunan tetap berjalan optimal di lahan terbatas. Penelitian ini bisa menyelidiki solusi alternatif yang tidak hanya memenuhi aspek keselamatan dan aksesibilitas evakuasi, tetapi juga mempertimbangkan estetika dan fungsionalitas ruang vertikal atau penggunaan material canggih, sebagai upaya untuk mencari jalan tengah antara regulasi yang ketat dan kebutuhan pembangunan kota yang dinamis.

Read online
File size468.2 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test