UnnasUnnas

SARGA: Journal of Architecture and UrbanismSARGA: Journal of Architecture and Urbanism

Bangunan Museum Wayang di Kawasan Kota Tua Jakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena memiliki nilai penting dalam sejarah perkembangan kota dan bangsa. Maka dari itu, diperlukan upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya sehingga nilai-nilai tersebut tidak hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya konservasi yang dilakukan terhadap bangunan Museum Wayang serta keseuiannya terhadap prinsip konservasi arsitektur. Penelitian dilakukan dengan menjabarkan upaya konservasi secara deskriptif-kualitatif melalui observasi dan studi pustaka. Secara keseluruhan, Museum Wayang telah menerapkan upaya konservasi yang tepat dengan mempertahankan signifikansi budaya dan tidak melakukan intervensi besar pada kondisi asli bangunan. Bentuk adaptive reuse pada Museum Wayang yang melibatkan kegiatan restorasi atau rehabilitasi menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan bagunan bernilai sejarah ditengah – tengah pesatnya perkembangan lingkungan perkotaan yang dinamis.

Konservasi bangunan cagar budaya Museum Wayang telah dilakukan dengan baik.Adaptive reuse yang diterapkan pada bangunan Museum Wayang sesuai dengan tujuan dan prinsip konservasi, sekalipun digunakan dengan fungsi baru tetapi tidak menghilangkan signifikansi budayanya dengan tidak melakukan intervensi besar pada existing bangunan dan terus melakukan pemeliharaan untuk mencegah pelapukan bangunan.Bentuk adaptive reuse pada Museum Wayang yang melibatkan kegiatan restorasi atau rehabilitasi menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan bagunan bernilai sejarah di tengah‑tengah pesatnya perkembangan lingkungan perkotaan yang dinamis.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki pengaruh penggunaan kembali (adaptive reuse) terhadap integritas struktural serta laju degradasi material pada bangunan warisan beriklim tropis, dengan Museum Wayang sebagai studi kasus utama. Selain itu, perlu dilakukan kajian tentang persepsi masyarakat dan pengalaman pengunjung terhadap keseimbangan antara pelestarian nilai historis dan fungsi baru museum, dengan perbandingan antara Museum Wayang dan museum lain di wilayah Kota Tua Jakarta. Penelitian ketiga dapat mengembangkan dan menguji kerangka kerja pemantauan digital berbasis sensor dan Building Information Modeling (BIM) untuk deteksi dini kerusakan pada bangunan cagar budaya, diterapkan pada Museum Wayang dan diekspansi ke situs warisan lainnya. Metode kualitatif‑kuantitatif, seperti survei, wawancara mendalam, serta analisis data sensor, dapat memberikan gambaran komprehensif tentang efektivitas strategi konservasi yang ada. Hasilnya diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih adaptif serta pedoman teknis bagi otoritas pelestarian budaya dalam menghadapi tantangan urbanisasi cepat. Dengan demikian, penelitian lanjutan ini akan memperkaya pengetahuan tentang praktik konservasi berkelanjutan dan mendukung upaya pelestarian warisan arsitektural Indonesia.

Read online
File size532.82 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test