POLTEKKES JAKARTA 3POLTEKKES JAKARTA 3

JKEPJKEP

Tindakan operasi memerlukan pembiusan, salah satunya menggunakan teknik anestesi subarachnoid block. Hipotensi merupakan komplikasi anestesi subarachnoid block yang menempati urutan tertinggi sebanyak 70,7% dari 82 responden dalam sebuah penelitian. Prevalensi kejadian hipotensi dilaporkan dalam lima tahun terakhir dengan hasil yang berbeda tiap tahunnya mulai 32,69%-76,9%. Hipotensi dapat mengakibatkan kondisi penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, hipoventilasi, hipoksia jaringan hingga kematian. Penelitian ini untuk membandingkan penggunaan ukuran spinocan dan posisi post induksi anestesi terhadap kejadian hipotensi pada pasien dengan Subarachnoid Block di RSUD Bendan Kota Pekalongan. Observasi analitik dengan cross sectional design. Penelitian dilakukan pada Februari-Maret 2024 dengan sampel sebanyak 148 responden menggunakan inklusi dan eksklusi. Pembiusan menggunakan spinocan ukuran 27G dan 25G, tekanan darah diukur menggunakan Bedside Monitor. Data dianalisis menggunakan uji statistik Mann Whitney. Hasil Penelitian Menunjukkan 84/148 responden (56.8%) mengalami hipotensi. Uji normalitas data didapatkan data berdistribusi tidak normal. Didapatkan hasil uji statistik dengan p value 0.028 pada kelompok supine dan trendelenburg dengan spinocan 27G. Hasil uji statistik p value 0.010 pada kelompok supine dan trendelenburg dengan spinocan 25G. Didapatkan hasil uji statistik p value 0.000 antara kelompok spinocan 27G dan spinocan 25G terhadap kejadian hipotensi. Kesimpulan penelitian ukuran spinocan ukuran 27G dan kelompok posisi trendelenburg 15° secara signifikan menekan angka kejadian hipotensi dibandingkan dengan spinocan ukuran 25G dan kelompok posisi supine.

Ada perbedaan signifikan dalam kejadian hipotensi pasca induksi anestesi subarachnoid block dengan spinocan 27G pada posisi supine dan trendelenburg 15°.Ada perbedaan signifikan dalam kejadian hipotensi pasca induksi anestesi subarachnoid block dengan spinocan 25G pada posisi supine dan trendelenburg 15°.Penggunaan spinocan 27G dengan posisi trendelenburg 15° secara signifikan menekan angka kejadian hipotensi dibandingkan dengan spinocan 25G dan posisi supine.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi efek jangka panjang dari penggunaan spinocan berbeda ukuran pada pasien dengan kondisi medis spesifik seperti hipertensi atau diabetes. Selain itu, penelitian bisa mengkaji kombinasi posisi tubuh pasca-anestesi dengan intervensi lain seperti pemberian cairan intravena atau obat vasopresor untuk meningkatkan efektivitas pencegahan hipotensi. Terakhir, studi lebih lanjut perlu membandingkan hasil ini dengan teknik anestesi lainnya, seperti anestesi epidural atau general, untuk mengetahui alternatif terbaik dalam mengurangi risiko hipotensi selama prosedur bedah.

  1. Perbandingan Efek Kecepatan Injeksi 0,4 ml/dtk Dan 0,2 ml/dtk Prosedur Anestesi Spinal Terhadap Kejadian... ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/9821Perbandingan Efek Kecepatan Injeksi 0 4 ml dtk Dan 0 2 ml dtk Prosedur Anestesi Spinal Terhadap Kejadian ejournal undip ac index php janesti article view 9821
  2. Insidensi dan Faktor Risiko Hipotensi pada Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal... journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/745Insidensi dan Faktor Risiko Hipotensi pada Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal journal fk unpad ac index php jap article view 745
  3. Perbandingan Efektivitas Anestesi Spinal Menggunakan Bupivakain Hiperbarik dengan Bupivakain Isobarik... doi.org/10.14710/jai.v11i3.25387Perbandingan Efektivitas Anestesi Spinal Menggunakan Bupivakain Hiperbarik dengan Bupivakain Isobarik doi 10 14710 jai v11i3 25387
Read online
File size242.42 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test