UPDMUPDM

Jurnal Pustaka KomunikasiJurnal Pustaka Komunikasi

Fenomena “Medusa Trauma di TikTok merupakan bentuk baru representasi penderitaan perempuan yang dikemas sebagai tren audio-visual. Istilah ini digunakan secara metaforis untuk menggambarkan trauma psikologis akibat pengkhianatan atau pelecehan oleh orang terdekat, dengan simbol Medusa dari mitologi Yunani yang awalnya perempuan cantik namun dikutuk menjadi monster setelah mengalami kekerasan seksual melambangkan kekuatan defensif dari luka batin. Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills untuk mengkaji posisi subjek dan objek dalam narasi Medusa Trauma, serta bagaimana relasi kuasa gender terbentuk dalam budaya digital. Analisis dilakukan pada dua tingkat, mikro (representasi teks, audio, dan visual dalam konten TikTok) dan makro (konteks ideologis dan struktural patriarki dalam budaya digital). Penelitian sebelumnya masih minim membahas representasi perempuan dalam tren digital yang viral dan potensi komodifikasi trauma, sehingga studi ini mengisi kekosongan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi emosional, tetapi juga mereproduksi wacana patriarkal yang memosisikan perempuan sebagai simbol penderitaan pasif. Kontribusi penelitian ini terletak pada pemahaman kritis tentang konstruksi gender dalam budaya digital dan implikasinya terhadap representasi trauma perempuan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tren Medusa Trauma di TikTok menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan pasif, di mana trauma divisualisasikan dan dikonsumsi publik tanpa mendorong advokasi atau perubahan struktural.Meskipun beberapa konten, seperti tato Medusa, menunjukkan upaya reclaiming simbol trauma, resistensi ini masih terbatas pada estetika simbolik, sejalan dengan bagaimana media sosial memperkuat relasi kuasa gender melalui representasi visual yang tampak netral namun ideologis.Studi ini berkontribusi pada pemahaman kritis konstruksi gender dalam budaya digital dan implikasi estetika visual terhadap representasi trauma perempuan, sekaligus menyediakan dasar bagi penelitian lanjutan mengenai advokasi digital, kesadaran gender, dan literasi digital yang substansial.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa fenomena Medusa Trauma di TikTok, meskipun menjadi ruang ekspresi bagi perempuan yang mengalami luka batin, seringkali justru menempatkan mereka sebagai objek penderitaan yang pasif, di mana trauma tersebut lebih banyak dikonsumsi secara visual dan emosional oleh publik tanpa mendorong perubahan struktural yang mendalam. Oleh karena itu, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat penting untuk dieksplorasi agar media digital dapat menjadi alat yang lebih memberdayakan. Pertama, bagaimana kita bisa mengembangkan strategi advokasi digital yang lebih efektif agar ekspresi trauma di platform seperti TikTok tidak hanya berakhir sebagai konten viral yang estetis, tetapi benar-benar mampu menggerakkan publik dan pembuat kebijakan untuk mengatasi akar masalah kekerasan terhadap perempuan? Penelitian bisa mencari model-model advokasi yang berhasil mengubah simpati menjadi aksi nyata, serta mengidentifikasi elemen-elemen narasi yang paling persuasif. Kedua, mengingat tren ini sering mereproduksi wacana patriarkal yang secara tidak sadar memosisikan perempuan sebagai korban, studi mendatang perlu menyelidiki cara-cara untuk membangun kesadaran gender yang lebih kritis di kalangan pengguna media sosial. Ini dapat dilakukan dengan merancang program literasi digital yang membantu individu, khususnya perempuan muda, untuk menganalisis konten trauma dengan pemahaman yang lebih dalam tentang relasi kuasa dan dampak ideologi patriarki. Terakhir, sangat penting untuk meneliti bagaimana praktik literasi digital yang lebih praktis dapat diajarkan kepada perempuan agar mereka mampu mengubah pengalaman trauma pribadi menjadi narasi yang penuh kekuatan dan agensi, bukan hanya menjadi simbol yang diam. Dengan demikian, reclaiming simbol trauma seperti tato Medusa dapat bertransformasi dari sekadar ekspresi estetis menjadi bentuk perlawanan aktif yang menantang struktur ketidakadilan dan mendukung pemulihan yang substansial bagi penyintas.

  1. Study of da'wah texts on muslim.or.id: The perspective of Sara Mills' critical discourse analysis... doi.org/10.21580/icj.2023.8.1.16258Study of dawah texts on muslim The perspective of Sara Mills critical discourse analysis doi 10 21580 icj 2023 8 1 16258
Read online
File size598.88 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test