STT GKESTT GKE

Jurnal Teologi PambelumJurnal Teologi Pambelum

Penelitian yang dilakukan pada bulan Maret-Juni 2024 di kota Banjarmasin kali ini ingin menyoroti tentang makna rumah bagi orang Banjar. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan metode historis kritis terhadap Matius 7:24-27 dalam rangka menemukan prinsip dan nilai yang bisa didialogkan antara biblika dengan kultural dalam hal pembangunan rumah orang Banjar. Secara tradisional dipahami bahwa bagi orang Banjar, tidak sekedar berfungsi sebagai tempat tinggal sebab sejak penentuan lokasi, pemilihan bahan bangunan, pembagian ruangan dan pengukuran bangunan dirinci secara detail dengan mempertimbangkan nilai-nilai spiritual dan ekologis. Penelitian dengan menggunakan kajian teologis-kultural yang menggabungkan teori analisis historis teks dengan pendekatan kultural, ditemukan beberapa hasil penelitian, yaitu: pertama, fondasi memiliki makna kehidupan; kedua, jenis rumah menggambarkan strata sosial; ketiga, nilai agama menjadi fondasi rumah dan keempat, nilai ekologis dalam memahami rumah.

Penelitian ini melakukan dialog antara konsep rumah dalam Perjanjian Baru dengan nilai pembangunan rumah orang Banjar, menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal melainkan arena pembentukan kehidupan sosial, spiritual, dan ekologis.Ditemukan bahwa rumah mencerminkan identitas sosial, nilai moral, dan ketaatan kepada Tuhan, serta mengandung nilai ekologis melalui pemilihan material dan teknik konstruksi.Dengan demikian, meskipun berasal dari tradisi Islam dan Kristus, terdapat nilai-nilai yang dapat didialogkan antara kedua agama.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana konsep oikos dalam teks Perjanjian Baru dapat diaplikasikan pada praktik arsitektur berkelanjutan di wilayah rawa-rawa Banjarmasin, dengan fokus pada pengaruh material lokal terhadap ketahanan bangunan (pertanyaan penelitian: bagaimanakah penerapan prinsip oikos dapat meningkatkan keberlanjutan konstruksi rumah tradisional Banjar?). Selain itu, perlu dilakukan studi komparatif mengenai persepsi nilai spiritual rumah antara komunitas Muslim Banjar dan komunitas Kristen di Kalimantan Selatan, untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memediasi dialog interfaith dalam konteks rumah (pertanyaan penelitian: faktor apa yang paling signifikan dalam membentuk nilai spiritual rumah pada kedua komunitas tersebut?). Selanjutnya, penelitian dapat mengeksplorasi dampak penggunaan kayu galam sebagai fondasi terhadap ekosistem lokal, termasuk analisis biaya lingkungan dan potensi alternatif bahan yang lebih ramah lingkungan (pertanyaan penelitian: apakah ada alternatif bahan fondasi yang dapat mengurangi tekanan pada sumber daya kayu galam tanpa mengorbankan ketahanan struktural?).

Read online
File size430.77 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test