STIKES BHMSTIKES BHM

JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan MasyarakatJPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat

Peningkatan tekanan darah merupakan masalah kesehatan paling banyak dialami lansia dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Penatalaksanaan peningkatan tekanan darah pada lansia bisa dilakukan secara farmakologis/non farmakologis maupun kombinasi keduanya untuk menjaga tekanan darah tetap stabil. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Jumlah sampel sebanyak 50 responden lansia yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan nilai Mean Arterial Pressure (MAP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan, seluruh responden (100%) mengalami pergeseran kategori MAP dari kategori sedang (106-120 mmHg) pada saat pre-test menjadi kategori normal (70-105 mmHg) pada saat post-test. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan adanya perubahan distribusi frekuensi MAP, dimana responden yang berada pada kategori normal (65,4%) dan kategori sedang (34,6%) tetap pada kategori yang sama saat pre-test maupun post-test. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai p = 0,000 α < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh senam lansia terhadap penurunan tekanan darah di Desa Sambiroto, Mojokerto. Dengan demikian, senam lansia terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu terapi nonfarmakologis untuk danych tekanan darah.

Penelitian menunjukkan bahwa senam lansia dapat menurunkan tekanan darah pada lansia di Desa Sambiroto, Mojokerto.Setelah intervensi, tekanan darah kelompok perlakuan beralih ke kategori normal, sedangkan kelompok kontrol tetap stabil.Hasil ini menyimpulkan bahwa senam lansia efektif dalam menstabilkan tekanan darah pada lansia di wilayah tersebut.

Pertama, perlu dilakukan studi longitudinal yang menilai kombinasi senam lansia dengan program pengelolaan pola makan rendah garam. Hasilnya akan menunjukkan apakah penurunan MAP lebih signifikan dibandingkan senam saja. Kedua, penelitian dapat menyesuaikan durasi sesi senam, misalnya 15 menit dan 30 menit, serta frekuensi mingguan, untuk menentukan intensitas optimal bagi lansia. Ketiga, perbandingan usaha senam lansia dengan intervensi non‑farmakologis lain seperti pijat refleksi kaki dapat mengungkap strategi multidimensional terbaik. Keempat, pengukuran kualitas hidup menggunakan alat ukur standard dapat melengkapi data biologis. Kelima, studi multiklinik di wilayah sekitarnya dapat memvalidasi generalisasi temuan. Enam, analisis faktor sosial‑ekonomi yang mempengaruhi partisipasi dapat meningkatkan desain intervensi. Tujuh, penggunaan sensor wearable untuk memonitor tekanan darah real‑time dapat menambah akurasi. Delapan, peneliti dapat mengkaji efek jangka panjang hingga 12 bulan. Sembilan, evaluasi kebijakan posyandu sebagaiঠিক platform implementasi dapat memperluas jangkauan. Kesepuluh, hasil akhir dapat dijadikan rekomendasi kebijakan kesehatan masyarakat.

Read online
File size374.08 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test