UNIPMAUNIPMA

Counsellia: Jurnal Bimbingan dan KonselingCounsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling

Perkembangan media digital yang semakin pesat menyebabkan remaja lebih sering terpapar konten instan dan repetitif yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis serta kemampuan kognitif. Salah satu fenomena yang muncul akibat kondisi tersebut adalah brain rot, yaitu menurunnya kualitas fokus, konsentrasi, dan pemrosesan informasi akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Kondisi ini menjadi penting untuk dikaji karena dapat berkaitan dengan psychological well-being remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological well-being dengan brain rot pada siswa sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 162 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well-being dan skala brain rot berbentuk skala likert. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being siswa cenderung berada pada kategori rendah, sedangkan brain rot berada pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara psychological well-being dengan brain rot. Semakin tinggi brain rot yang dialami siswa, maka semakin rendah psychological well-being yang dimiliki. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam membantu siswa meningkatkan regulasi diri, pengelolaan penggunaan media digital, serta kemampuan menjaga kesejahteraan psikologis di era digital.

Penelitian menunjukkan bahwa pada siswa kelas VIII SMPN 3 Banjarmasin, psychological well‑being cenderung rendah sementara tingkat brain rot berada pada kategori sedang.Analisis korelasi mengungkapkan hubungan negatif yang signifikan antara kedua variabel, di mana psychological well‑being yang lebih tinggi berhubungan dengan brain rot yang lebih rendah.Oleh karena itu, sekolah, keluarga, dan layanan bimbingan konseling disarankan untuk memperkuat psychological well‑being dan membangun kebiasaan penggunaan media digital yang sehat guna meminimalkan dampak brain rot pada remaja.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efek intervensi regulasi penggunaan media digital terhadap peningkatan psychological well‑being dan penurunan brain rot pada remaja dengan desain eksperimental di beberapa sekolah. Selain itu, studi longitudinal diperlukan untuk memetakan perubahan psychological well‑being dan brain rot selama periode waktu tertentu sehingga dapat mengidentifikasi arah kausalitas antar variabel. Penelitian juga dapat mengeksplorasi peran mediasi orang tua serta program literasi digital di sekolah sebagai faktor moderasi yang dapat mengurangi dampak negatif penggunaan media digital berlebihan terhadap brain rot pada siswa.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1069APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 0022 3514 57 6 1069
Read online
File size513.57 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test