AKPERRSPADJAKARTAAKPERRSPADJAKARTA

JOURNAL EDUCATIONAL OF NURSING(JEN)JOURNAL EDUCATIONAL OF NURSING(JEN)

ASI merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi baru lahir dan berperan penting dalam pertumbuhan serta sistem kekebalan tubuh. Namun, produksi ASI yang lancar sering menjadi tantangan bagi sebagian ibu menyusui. Salah satu upaya non‑farmakologis yang dapat mendukung produksi ASI yang lancar adalah konsumsi pepaya. Pepaya mengandung lactogagum yang dapat menstimulasi sekresi oksitosin dan prolaktin, hormon yang merangsang produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek konsumsi pepaya terhadap kelancaran aliran ASI pada ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Songgon pada tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuasi‑eksperimental dengan pendekatan pre‑test dan post‑test. Sebanyak 30 responden diperoleh melalui sampling tidak sengaja, dibagi menjadi dua kelompok masing‑masing 15 responden (kelompok intervensi dan kontrol), memenuhi jumlah sampel minimum yang sesuai untuk penelitian. Kelompok intervensi diberikan buah pepaya 3 kali sehari selama 7 hari dengan dosis 250 gram per makan. Kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan apa pun. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling tidak sengaja. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner indikator kelancaran aliran ASI dan lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon dan Mann‑Whitney menggunakan SPSS 25 untuk Windows. Penelitian dilaksanakan pada 31 Januari–25 Februari 2025, dengan KEPK No. 071/01/KEPK‑STIKESBWI/I/2024‑2025. Hasil menunjukkan rata‑rata kelancaran ASI pada kelompok intervensi meningkat dari 1,87 menjadi 7,40, sedangkan pada kelompok kontrol meningkat dari 2,20 menjadi 4,00. Selisih rata‑rata pada kelompok intervensi sebesar 5,53, dan pada kelompok kontrol sebesar 1,8. Nilai p = 0,000 mengindikasikan adanya pengaruh. Pepaya dapat direkomendasikan sebagai alternatif alami untuk meningkatkan aliran ASI.

Berdasarkan temuan, konsumsi pepaya secara signifikan meningkatkan kelancaran ASI pada ibu menyusui, dengan nilai rata‑rata skor kelancaran pada kelompok intervensi naik dari 1,87 (pratesti) menjadi 7,40 (posttest), sedangkan pada kelompok kontrol hanya naik menjadi 4,00 (p=0,000).Perbedaan peningkatan antara kelompok intervensi (5,53) dan kontrol (1,8) menunjukkan efek pepaya yang lebih besar.Oleh karena itu, pepaya dapat direkomendasikan sebagai alternatif alami untuk meningkatkan kelancaran produksi ASI.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki efektivitas relatif pepaya dibandingkan dengan makanan lain yang diketahui memiliki sifat laktagogik, seperti katuk dan daun kelor, terhadap peningkatan kelancaran ASI pada ibu menyusui dengan menggunakan sampel yang lebih besar dan desain multi‑pusat, sehingga dapat menghasilkan generalisasi yang lebih kuat. Selain itu, diperlukan studi untuk menentukan hubungan dosis‑respons konsumsi pepaya, misalnya dengan membandingkan dosis 150 g, 250 g, dan 350 g per hari selama 7 hingga 14 hari, serta mengukur perubahan kadar hormon oksitosin dan prolaktin untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari peningkatan produksi ASI. Selanjutnya, kombinasi intervensi gizi berupa konsumsi pepaya dengan program edukasi menyusui yang terstruktur dapat dievaluasi untuk melihat apakah sinergi antara peningkatan nutrisi dan peningkatan pengetahuan dapat memperbaiki keberhasilan menyusui pada ibu primipara di daerah pedesaan, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Songgon. Penelitian‑penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah yang lebih komprehensif untuk mendukung kebijakan kesehatan publik dalam mempromosikan praktik menyusui eksklusif.

  1. The Effect of Consuming Papaya on the Smoothness of Breast Milk in Breastfeeding Mothers in the Working... doi.org/10.37430/jen.v8i2.281The Effect of Consuming Papaya on the Smoothness of Breast Milk in Breastfeeding Mothers in the Working doi 10 37430 jen v8i2 281
Read online
File size352.85 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test