UNTARUNTAR

Jurnal Mitra Teknik SipilJurnal Mitra Teknik Sipil

Dengan adanya pertumbuhan pendudukan dan perkembangan teknologi, bentuk bangunan dari waktu ke waktu juga mengikuti perubahan yang terjadi. Perubahan bentuk bangunan tersebut membawa kebutuhan kekuatan terhadap gaya dan momen tertentu berubah. Maka dari itu, fondasi sebagai struktur bagian bawah sekaligus penopang bangunan harus mampu menahan gaya-gaya yang terjadi. Fondasi tiang pancang pracetak merupakan salah satu jenis fondasi dalam yang umum digunakan sekarang ini. Namun, dikarenakan fondasi cetak terlebih dahulu di luar lapangan, terdapat batasan panjang pada fondasi tersebut akibat dari segi transportasi, dan sebagainya. Sambungan fondasi merupakan sarana pemersatu tiang pancang pracetak untuk mencapai kedalaman pemancangan yang diinginkan. Perencanaan sambungan fondasi tiang pancang diperlukan karena beberapa jenis sambungan memiliki reduksi kekuatan yang memungkinkan terjadinya kegagalan pada struktur fondasi. Pemilihan jenis sambungan yang tepat dapat menghasilkan suatu efisiensi terhadap kebutuhan dengan biaya yang dikeluarkan. Maka dari itu, langkah penentuan pemilihan jenis sambungan tiang pancang pracetak harus lebih ditekankan kepada para pihak pembangunan proyek.

Berdasarkan hasil analisis, semua sambungan tiang pancang yang diuji tidak mampu menahan gaya tarik, dan sambungan Brunsplice serta Cement Dowel akan gagal pada momen lentur maksimum sekitar kedalaman 7,5 m.Selain itu, tidak terdapat reduksi kekuatan pada daya dukung aksial tekan, sementara sambungan Anderson dan Brunsplice kurang cocok bila terdapat gaya tarik pada kombinasi beban struktur atas.Penentuan posisi sambungan dipengaruhi oleh kurvatur momen lentur fondasi.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi penggunaan material baru seperti serat polimer yang diperkuat (FRP) pada sambungan tiang pancang untuk meningkatkan kapasitas menahan gaya tarik, lateral, dan momen, serta menilai kinerjanya melalui uji laboratorium dan lapangan. Selain itu, pengembangan model numerik berbasis elemen hingga yang memodelkan perilaku grup tiang pancang dengan sambungan splicing dapat divalidasi dengan data eksperimental, sehingga memungkinkan prediksi mekanisme kegagalan secara lebih akurat. Selanjutnya, studi geoteknik yang mempertimbangkan heterogenitas tanah serta beban dinamis, termasuk gempa bumi, dapat memberikan pedoman desain yang lebih komprehensif bagi fondasi tiang pancang dengan sambungan, sehingga meningkatkan keamanan dan efisiensi biaya pada proyek konstruksi besar.

Read online
File size787.14 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test