ITSCIENCEITSCIENCE

Journal of AgricultureJournal of Agriculture

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan penggunaan pupuk organik pada tanaman padi sawah di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Penelitian difokuskan pada aspek agronomi, ekologi, dan sosial‑ekonomi dari penerapan pupuk organik sebagai alternatif atau pelengkap pupuk anorganik. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif analitis dengan metode survei serta studi literatur pada sawah di enam kecamatan yang menjadi pusat produksi padi di Kabupaten Deli Serdang. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan 120 petani padi sawah dan observasi lapangan selama musim tanam 2023/2024. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik secara konsisten meningkatkan kandungan karbon organik tanah dari rata‑rata 1,2 % menjadi 2,4 % setelah tiga musim tanam berturut‑turut. Produktivitas padi sawah pada lahan yang diberi pupuk organik gabungan mencapai 6,2 ton/ha gabah kering (GKG), lebih tinggi dibandingkan lahan konvensional dengan rata‑rata produksi 5,4 ton/ha GKG. Analisis keberlanjutan mengungkapkan bahwa penerapan pupuk organik memberikan dampak positif terhadap kualitas tanah, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan pendapatan petani sebesar 18,5 % dalam jangka menengah. Hambatan utama yang teridentifikasi meliputi keterbatasan ketersediaan bahan baku organik, biaya awal yang relatif tinggi, serta kurangnya pengetahuan teknis petani dalam produksi dan aplikasi pupuk organik. Dukungan kebijakan terpadu dari pemerintah serta program pelatihan berkelanjutan diperlukan untuk mendorong adopsi luas pupuk organik di Kabupaten Deli Serdang.

Penggunaan konsisten pupuk organik selama dua musim tanam meningkatkan kandungan C organik tanah dari 1,2 % menjadi 2,4 % serta memperbaiki pH, N total, P tersedia, dan CEC.Kombinasi 10 ton/ha pupuk kandang dengan 50 % dosis pupuk anorganik (P2A1) menghasilkan produktivitas tertinggi (6,8 ton/ha GKG, 25,9 %) dan analisis keberlanjutan menunjukkan indeks ekologi 68,4, peningkatan pendapatan petani 18,5 % serta kepuasan lahan yang lebih tinggi.Hambatan utama meliputi keterbatasan bahan baku berkualitas, biaya awal tinggi, pengetahuan teknis petani yang terbatas, serta kurangnya infrastruktur komposting.diperlukan kebijakan terintegrasi yang mencakup subsidi pupuk organik, pengembangan institusi petani, pelatihan teknis berkelanjutan, dan kemitraan multi‑pemangku kepentingan untuk memperluas adopsi.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas penggunaan bioaktif mikroorganisme EM4 dan MOL dalam proses komposting pupuk organik pada skala petani kecil, dengan fokus pada pengurangan waktu dekomposisi dan peningkatan kandungan nutrisi; penelitian ini dapat menjawab pertanyaan bagaimana kombinasi mikroba tersebut mempengaruhi kualitas tanah dan hasil panen dibandingkan kompos konvensional. Selanjutnya, studi banding antara model koperasi petani yang memproduksi pupuk organik secara kolektif dan model individu dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempercepat adopsi teknologi, termasuk analisis ekonomi, sosial, dan keberlanjutan lingkungan, serta menilai apakah skala produksi bersama dapat menurunkan biaya awal dan meningkatkan akses bahan baku. Terakhir, perlu dilakukan penelitian eksperimental yang mengintegrasikan penggunaan pupuk organik dengan praktik agrikultur presisi, seperti sensor tanah dan aplikasi dosis variabel, untuk menentukan potensi peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, reduksi emisi gas rumah kaca, dan peningkatan profitabilitas petani di wilayah Deli Serdang yang memiliki variasi kondisi tanah yang signifikan.

Read online
File size238.67 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test