UnwahasUnwahas

Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi KlinikJurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik

Penggunaan obat tradisional jamu oleh masyarakat yang relatif tinggi, memberikan kesempatan bagi produsen melakukan pemalsuan komposisi obat ini untuk mengidentifikasi keberadaan Bahan Kimia Obat (BKO) natrium diklofenak dalam jamu rematik di Kota Wonosobo sehingga dapat menjadi referensi terkait keamanan obat tradisional yang dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan Bahan Kimia Obat (BKO) natrium diklofenak dalam jamu rematik yang beredar di Kota Wonosobo. Sampel yang digunakan adalah lima merek jamu rematik yang diperoleh dari toko jamu di daerah Wonosobo. Identifikasi BKO dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 282 nm. Analisis kualitatif menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak campuran toluen: etil asetat: asam asetat glasial (60:40:1). Deteksi dilakukan dengan sinar UV 254 nm dan 366 nm. Hasil menunjukkan bahwa sampel AT positif mengandung natrium diklofenak dengan nilai Rf=0,75 yang sama dengan Rf standar natrium diklofenak. Sedangkan keempat sampel lainnya dinyatakan negatif mengandung BKO natrium diklofenak. Kurva baku untuk penetapan kadar menggunakan spektrofotometri dibuat pada 5, 10, 15, 20, dan 25 ppm. Kandungan natrium diklofenak pada sampel jamu AT replikasi 1 adalah 2,23%, sampel AT replikasi 2 mengandung 1,56%, dan sampel AT replikasi 3 mengandung 1,41%.

Hasil analisis menggunakan teknik KLT dan spektrofotometri UV-Vis terhadap 5 merk sampel jamu rematik mendeteksi bahwa salah satu sampel jamu, yaitu jamu AT positif mengandung natrium diklofenak dengan 3 kali replikasi yakni replikasi 1 mengandung 2,23%, replikasi 2 mengandung 1,56%, dan replikasi 3 mengandung 1,41%.Sedangkan pada keempat sampel lainnya dinyatakan negatif mengandung BKO natrium diklofenak.

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan fokus pada identifikasi dan analisis kandungan BKO dalam berbagai jenis jamu yang beredar di pasaran. Penelitian ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang lebih sensitif dan spesifik, seperti kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) atau spektrometri massa. Selain itu, penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengevaluasi efek klinis dari konsumsi jamu yang mengandung BKO, serta potensi interaksi obat dengan jamu tersebut. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan keamanan dan efektivitas penggunaan jamu sebagai obat tradisional.

Read online
File size824.31 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test