IAI TABAHIAI TABAH

Darajat: Jurnal Pendidikan Agama IslamDarajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai strategi penguatan kompetensi peserta didik menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Kajian ini penting karena SMK menghadapi tuntutan ganda, yaitu menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap transformasi industri digital sekaligus memastikan pemanfaatan AI berlangsung etis, inklusif, dan pedagogis. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan analisis isi terhadap artikel jurnal, buku akademik, laporan kebijakan, dan dokumen relevan tentang AI, pendidikan vokasi, pembelajaran adaptif, dan kesiapan kerja lulusan. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi tema, sintesis kritis, dan konstruksi model konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa AI dapat mengoptimalkan pembelajaran SMK melalui lima jalur utama: personalisasi pembelajaran, otomasi asesmen dan administrasi guru, simulasi praktik berbasis industri, penguatan literasi digital, serta pembinaan soft skills dan kesiapan kerja. Namun, optimalisasi tersebut mensyaratkan kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, tata kelola data, literasi etis, serta kolaborasi sekolah, pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha-dunia industri. Artikel ini menawarkan model optimalisasi AI berbasis pedagogi vokasional yang menempatkan guru sebagai pengarah, AI sebagai pendukung, dan peserta didik sebagai subjek aktif pembelajaran.

Optimalisasi kecerdasan artifisial dalam pembelajaran SMK merupakan kebutuhan strategis untuk menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.AI memiliki potensi memperkuat personalisasi pembelajaran, asesmen adaptif, efisiensi administrasi guru, simulasi praktik industri, literasi digital, soft skills, dan kesiapan kerja peserta didik.Dalam konteks pendidikan vokasi, AI dapat menjembatani kebutuhan individual siswa dengan standar kompetensi dunia kerja sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan, fleksibel, dan berbasis data.Namun, potensi tersebut tidak otomatis menghasilkan peningkatan mutu.AI hanya akan berdampak positif apabila diterapkan melalui desain pedagogis, tata kelola etis, kesiapan guru, dukungan infrastruktur, dan kolaborasi multipihak.Guru tetap menjadi aktor utama yang merancang, mengarahkan, memverifikasi, dan mengevaluasi penggunaan AI.Sekolah perlu menyusun peta jalan implementasi yang bertahap, mulai dari literasi, uji coba, integrasi kurikuler, kolaborasi industri, hingga evaluasi dampak.Pemerintah, perguruan tinggi, dan industri perlu menyediakan ekosistem pendukung agar transformasi AI di SMK berlangsung inklusif dan berkelanjutan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menguji model optimalisasi AI ini melalui studi lapangan pada berbagai kompetensi keahlian SMK agar diperoleh bukti empiris mengenai efektivitas, tantangan implementasi, dan dampaknya terhadap kesiapan kerja lulusan. Selain itu, perlu dipertimbangkan aspek pemerataan akses dan dukungan infrastruktur dasar dalam kebijakan AI di SMK, serta pelatihan guru yang diarahkan pada literasi AI yang kritis, bukan sekadar pelatihan penggunaan aplikasi. Terakhir, penting untuk mengembangkan kasus pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan memastikan bahwa penggunaan AI tidak menambah beban guru, tetapi justru mengurangi pekerjaan rutin dan memperkuat pendampingan siswa.

  1. State of the art and practice in AI in education - Holmes - 2022 - European Journal of Education - Wiley... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ejed.12533State of the art and practice in AI in education Holmes 2022 European Journal of Education Wiley onlinelibrary wiley doi 10 1111 ejed 12533
  2. OECD Digital Education Outlook 2021 | OECD. oecd digital education outlook skip main content pushing... doi.org/10.1787/40fa80d3-enOECD Digital Education Outlook 2021 OECD oecd digital education outlook skip main content pushing doi 10 1787 40fa80d3 en
Read online
File size665.43 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test