UMKUMK

Ta lim Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan IslamTa lim Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam

Artikel ini mengkaji peran kerajaan Islam di Nusantara, khususnya Samudera Pasai, Aceh Darussalam, dan Mataram Islam, dalam proses Islamisasi serta kontribusinya terhadap pembentukan tradisi keilmuan Islam. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kecenderungan kajian sejarah Islam Nusantara yang lebih menekankan aspek kultural dan peran individual ulama, sehingga kurang memberi perhatian pada peran kekuasaan politik sebagai aktor strategis dalam pengembangan Islam dan pendidikan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi kerajaan Islam dalam sejarah Islamisasi Nusantara, pola relasi antara kesultanan dan ulama, variasi strategi Islamisasi yang diterapkan, serta relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-analitis dan komparatif melalui analisis sumber-sumber sejarah, literatur akademik, dan kajian historiografi Islam Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi Nusantara berlangsung secara terarah melalui peran aktif kerajaan dalam mendukung dakwah, membangun lembaga pendidikan, dan membentuk tradisi keilmuan Islam yang berkelanjutan. Setiap kerajaan memiliki corak Islamisasi yang berbeda sesuai konteks sosial dan budayanya, namun seluruhnya menunjukkan hubungan simbiotik antara ulama dan kekuasaan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa tradisi keilmuan Islam Nusantara merupakan hasil interaksi historis antara agama dan kekuasaan, serta memiliki relevansi penting bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam yang integratif, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan peradaban.

Kerajaan Samudera Pasai, Aceh Darussalam, dan Mataram Islam memainkan peran strategis dalam Islamisasi Nusantara dengan mengintegrasikan kekuasaan politik dan fungsi agama untuk membentuk arah perkembangan Islam.Hubungan simbiotik antara kerajaan dan ulama menyediakan legitimasi bersama serta institusionalisasi pengetahuan Islam.Keberagaman strategi—Pasai yang berorientasi pada jaringan perdagangan internasional, Aceh yang menekankan institusi kekuasaan dan ortodoksi, serta Mataram yang mengadaptasi budaya lokal—menunjukkan bahwa proses Islamisasi bersifat dinamis, kontekstual, dan tidak monolitik.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji secara komparatif bagaimana jaringan perdagangan internasional pada masa Samudera Pasai mempengaruhi penyebaran ilmu Islam dan apakah pola tersebut dapat diterapkan dalam konteks pendidikan Islam modern di wilayah pesisir Indonesia; selanjutnya, diperlukan studi mendalam mengenai mekanisme patronase kerajaan terhadap ulama di Kesultanan Aceh untuk memahami dampaknya terhadap pembentukan kurikulum keilmuan Islam kontemporer, khususnya dalam konteks integrasi nilai tradisional dan ortodoksi; terakhir, disarankan dilakukan penelitian longitudinal tentang transformasi institusi pendidikan Islam di Kesultanan Mataram, dengan fokus pada cara akulturasi simbol budaya Jawa memengaruhi praktik pedagogik dan bagaimana temuan tersebut dapat memperkaya model pembelajaran inklusif yang sensitif terhadap keragaman budaya di Indonesia saat ini.

Read online
File size349.5 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test