SARI MUTIARASARI MUTIARA

JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKATJURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT

Kenaikan intensitas penggunaan teknologi digital telah menimbulkan keprihatinan tentang dampaknya terhadap perkembangan sosial generasi muda. Penelitian ini memfokuskan pada analisis hubungan sebab akibat antara frekuensi penggunaan media sosial dan keterampilan interaksi sosial di kalangan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah perkotaan. Sebuah studi observasional analitik dengan desain kohort prospektif dilaksanakan di SMK Teknologi Abadi, Jakarta Pusat, dari Januari hingga Mei 2025. Sebanyak 105 siswa kelas XI terlibat, dipilih melalui sampling acak stratifikasi berdasarkan jurusan. Data dikumpulkan melalui catatan waktu penggunaan media sosial (menggunakan aplikasi pihak ketiga) dan kuesioner Standard Social Skills Rating System (SSRS). Data diolah menggunakan software IBM SPSS versi 26.0, mencakup analisis regresi logistik biner dan uji rasio peluang dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas siswa (72,4%) mencatat penggunaan media sosial di atas batas normal (lebih dari 3 jam per hari), dan 65,7% di antaranya dikategorikan memiliki keterampilan interaksi sosial rendah. Analisis statistik membuktikan adanya asosiasi signifikan dan kuat antara penggunaan media sosial berlebihan dan keterampilan interaksi sosial rendah (OR = 2,85; p = 0,003), artinya siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial memiliki peluang 2,85 kali lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan berinteraksi secara tatap muka. Kesimpulannya, penggunaan media sosial berlebihan memiliki dampak negatif yang jelas terhadap kualitas interaksi sosial remaja, menegaskan urgensi pendidikan literasi digital dan penguatan aktivitas sosial offline di sekolah.

Sebagian besar siswa memiliki pemahaman baik tentang rokok, namun pengetahuan tidak sepenuhnya mencegah perilaku merokok.Faktor lain seperti pengaruh teman sebaya, lingkungan sosial, rasa ingin tahu, dan akses ke rokok turut berperan.Penelitian menegaskan perlunya pendekatan multidisiplin dalam upaya pencegahan merokok pada remaja.

Mengingat bahwa pengetahuan perokok belum sepenuhnya menghalangi perilaku merokok, studi selanjutnya dapat meneliti bagaimana pengaruh interaksi sosial dan norma kelompok terhadap perbedaan perilaku merokok di kalangan siswa. Pertanyaan penelitian baru yang relevan termasuk: (1) Bagaimana pengaruh jaringan teman sebaya terhadap keputusan memulai merokok pada siswa yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi? (2) Apakah program pendidikan kesehatan berbasis peer mentoring dapat menurunkan tingkat merokok lebih efektif dibandingkan pendekatan tradisional? (3) Sejauh mana akses mudah ke produk rokok memoderasi hubungan antara pengetahuan dan perilaku merokok? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, pemangku kepentingan dapat merancang intervensi yang lebih tepat sasaran, memperkuat pengelolaan kebiasaan merokok di kalangan remaja, dan pada akhirnya menurunkan prevalensi merokok di masa depan.

Read online
File size344.74 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test