STFTKIJNESTFTKIJNE

MURAI: Jurnal Papua Teologi KonstekstualMURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual

Dopis adalah salah satu jenis bom yang digunakan untuk memudahkan penangkapan ikan dalam jumlah besar. Namun, penggunaan dopis memberikan dampak buruk tidak hanya bagi pengguna, tetapi juga bagi ekosistem bawah laut. Permasalahan terkait penggunaan dopis ini juga terjadi di Kabupaten Biak Numfor, khususnya di sekitar gugusan Kepulauan Padaido. Di daerah tersebut, banyak nelayan tradisional yang menggunakan dopis sebagai alat untuk menangkap ikan, yang berakibat merusak ekosistem laut di Kepulauan Padaido. Salah satu permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah dampak penggunaan dopis di Pulau Pai, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Padaido. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penggunaan dopis untuk menangkap ikan antara lain hancurnya ekosistem bawah laut, rusaknya terumbu karang, kematian berbagai jenis ikan, bahkan ikan-ikan yang berpindah dan menjauh dari pesisir pantai, serta laut yang tercemar. Dampak lainnya adalah penurunan pendapatan ekonomi penduduk, karena ikan semakin sulit untuk didapatkan. Tulisan ini akan mengkaji dampak penggunaan dopis dari sudut pandang teologi, khususnya yang berkaitan dengan ekologi dan ilmu misi pekabaran Injil. Dalam tulisan ini, dopis dipandang sebagai pembunuh, dan penggunaan dopis dianggap sebagai bentuk pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Hal ini kemudian dikaitkan dengan Amanat Agung Yesus dalam Injil Markus 16:15 tentang tugas pekabaran Injil kepada segala makhluk. Ekosistem bawah laut di Pulau Pai, yang merupakan dunia yang rusak akibat penggunaan dopis, perlu dipulihkan. Oleh karena itu, perintah Yesus dalam Markus 16:15 harus dipahami dan diterapkan kembali untuk kondisi dunia bawah laut di sekitar Pulau Pai, agar dapat kembali seperti sedia kala. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, studi pustaka, dan wawancara, yang kemudian dianalisis dan dilaporkan dalam bentuk deskripsi.

Kerusakan lingkungan di Pulau Pai disebabkan oleh penggunaan dopis yang bersifat serakah, merusak ekosistem laut dan mengancam kehidupan manusia.Allah menghendaki pemulihan melalui tindakan penyelamatan yang sejalan dengan perintah Injil Markus 16.15, sehingga pekabaran Injil harus diimplementasikan secara holistik untuk memulihkan ekosistem dan makhluk ciptaan.Kolaborasi antara gereja dan pemerintah diperlukan untuk mengedukasi masyarakat, menghentikan penggunaan dopis, dan melakukan rehabilitasi terumbu karang serta membangun kesadaran misi yang berkelanjutan.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas program edukasi berbasis komunitas yang dirancang untuk mengurangi penggunaan dopis di Pulau Pai dengan pendekatan campuran antara survei kuantitatif dan wawancara mendalam, sehingga dapat mengidentifikasi faktor-faktor motivasi dan hambatan pada nelayan tradisional; selanjutnya, studi longitudinal yang memantau pemulihan terumbu karang dan keanekaragaman hayati setelah penghentian dopis dapat memberikan data ilmiah tentang laju rehabilitasi ekosistem serta membantu merumuskan kebijakan konservasi yang lebih tepat; terakhir, kajian teologis‑ekologis yang mengembangkan kerangka kerja integratif antara misi gereja dan konservasi laut dapat memperkuat pemahaman tentang peran spiritual dalam pelestarian lingkungan, sekaligus menghasilkan model intervensi yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lain di Papua.

Read online
File size211.32 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test