LLDIKTI13LLDIKTI13

Aceh Journal of Health InnovationAceh Journal of Health Innovation

Stres muncul tidak memandang usia. Stres yang berlarut larut pada orang lanjut usia (lansia) dapat menimbulkan berbagai gejal psikologis, diantaranya perasaan cemas, ketakutan, tertekan, kehilangan rasa aman, harga diri terancam, gelisah, sukar makan dan sering mengalami gangguan tidur. Stres juga dapat menyebabkan kemunduran fisik bagi lansia. Stres pada lansia dapat diatasi dengan beberapa cara, salah satunya dengan menggunakan terapi okupasi. Terapi okupasi adalah jenis alternatif non farmakologi yang mudah dilakukan, dan digunakan akan tetapi mempunyai manfaat besar untuk mengurangi stres. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi okupasi terhadap tingkat stres pada lansia. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi literature. Pencarian artikel dilakukan dengan menggunakan data base google scholar. Hasil pencarian didapatkan 384 artikel sesuai dengan kata kunci yang telah ditentukan dan berdasarkan assesment kelayakan tereksklusi 113 artikel, sehingga didapatkan 3 artikel yang akan direview. Kesimpulan menjelaskan adanya pengaruh penerapan terapi okupasi dalam menurunkan tingkat stres lansia dimana lansia lebih rileks dan meningkatkan kemampuan kemandirian serta kesehatannya.

Terapi okupasi dapat mengurangi perasaan cemas/stres pada lansia, dimana aktifitas yang dilakukan dapat mengisi waktu, meningkatkan kesejahteraan, dan membuat lansia menjadi lebih rileks.

Satu arah penelitian selanjutnya adalah menguji secara eksperimental efektivitas berbagai jenis aktivitas terapi okupasi, seperti kerajinan tangan, latihan kebugaran ringan, dan kegiatan berkebun, terhadap penurunan tingkat stres pada lansia melalui rancangan uji coba terkontrol secara acak (RCT) dengan sampel yang representatif dari berbagai wilayah. Kedua, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk memantau dampak jangka panjang terapi okupasi selama enam hingga dua belas bulan, menilai tidak hanya perubahan skor stres tetapi juga kualitas hidup, kemandirian fungsional, dan kesehatan mental secara menyeluruh. Ketiga, mengingat keterbatasan akses di daerah terpencil, studi dapat mengeksplorasi penerapan terapi okupasi berbasis teknologi digital atau telehealth, mengukur keberhasilan intervensi jarak jauh dibandingkan dengan sesi tatap muka tradisional. Keempat, analisis faktor moderasi seperti tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, dan dukungan keluarga dapat membantu mengidentifikasi subkelompok lansia yang paling diuntungkan dari intervensi tertentu. Kelima, penelitian kualitatif dapat menggali persepsi lansia terhadap aktivitas terapi okupasi, mengungkap motivasi, hambatan, dan kepuasan mereka, sehingga memperkaya desain program yang lebih berpusat pada pengguna. Semua ide tersebut dapat memperluas pemahaman tentang bagaimana terapi okupasi dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia secara efektif.

Read online
File size122.13 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test