PELNIPELNI

Jurnal Keperawatan Degeneratif PelniJurnal Keperawatan Degeneratif Pelni

Latar Belakang: Pengelolaan kadar gula darah merupakan aspek penting dalam penanganan diabetes melitus (DM) untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup. Terapi relaksasi autogenic, yaitu teknik relaksasi dengan sugesti diri, berperan dalam menurunkan stres yang dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Berdasarkan kondisi tersebut, terapi relaksasi autogenic berpotensi menjadi metode pendamping yang sederhana, murah, dan dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus dengan terapi relaksasi autogenic di Kelurahan Karang Anyar, Jakarta Pusat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan melibatkan 4 pasien. Terapi relaksasi autogenic dilakukan 1 kali pemberian sehari selama 3 hari dengan durasi 15–20 menit. Penurunan kadar gula darah sewaktu terlihat dari perbandingan data sebelum dan sesudah intervensi yang tercatat pada lembar observasi harian. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu pada pasien diabetes melitus. Data dari lembar observasi harian keempat responden memperlihatkan penurunan kadar gula darah sewaktu yang signifikan dengan rata-rata penurunan sebesar 41,25 mg/dl dari 236,65 mg/dl menjadi 195 mg/dl setelah dilakukan terapi relaksasi autogenic. Kesimpulan: Penelitian ini menyatakan penurunan kadar gula darah sewaktu yang signifikan pada keempat responden setelah melakukan terapi relaksasi autogenic dengan rata-rata penurunan sebesar 41,25 mg/dl.

Penelitian ini membuktikan bahwa terapi relaksasi autogenic mampu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Kelurahan Karang Anyar Jakarta Pusat.Besar penurunan rata-rata 41,25 mg/dl setelah tiga hari intervensi.Efektivitas terapi ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, kepatuhan pengobatan, riwayat penyakit, serta pola makan.Oleh karena itu, relaksasi autogenic dapat direkomendasikan sebagai salah satu pilihan terapi non‑farmakologis yang mudah, praktis, dan bermanfaat dalam membantu pengendalian kadar gula darah.

Pertanyaan penelitian pertama dapat meneliti apakah kombinasi terapi relaksasi autogenic dengan program edukasi nutrisi dapat meningkatkan penurunan kadar glukosa darah secara lebih signifikan dibandingkan dengan terapi relaksasi tunggal. Penelitian kedua dapat membandingkan efektivitas terapi relaksasi autogenic pada pasien diabetes tipe 2 yang berbeda usia dan tingkat kepatuhan obat, untuk mengetahui faktor moderasi yang memengaruhi hasil. Penelitian ketiga dapat mengeksplorasi mekanisme neuroendokrin yang terlibat dalam penurunan glukosa darah setelah intervensi relaksasi, misalnya pengukuran kortisol dan hormon stres lainnya, dan menghubungkannya dengan perubahan kadar gula darah yang diamati.

  1. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 | Della | Jurnal... doi.org/10.22146/jkkk.83090Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Della Jurnal doi 10 22146 jkkk 83090
  2. Determinan Risiko dan Pencegahan terhadap Kejadian Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia Produktif... journals.prosciences.net/index.php/JPHE/article/view/148Determinan Risiko dan Pencegahan terhadap Kejadian Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia Produktif journals prosciences index php JPHE article view 148
Read online
File size308.41 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test