UNKAUNKA

FOKUS : Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa, Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas SintangFOKUS : Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa, Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang

Konflik sosial di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, merupakan dampak dari keragaman etnis, agama, sosial-ekonomi, serta sejarah perselisihan yang kompleks. Beberapa konflik yang pernah mencuat adalah konflik keagamaan dan konflik batas tanah, yang menunjukkan urgensi penanganan konflik secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan collaborative governance dalam penyelesaian konflik sosial di Sintang dengan menggunakan tiga indikator dari Ansell dan Gash, yaitu kondisi awal, proses kolaboratif, dan kepemimpinan fasilitatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi lapangan, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah melalui Badan Kesbangpol, FKDM, tokoh agama, tokoh adat, dan elemen masyarakat lainnya menjadi kunci dalam mendorong upaya deteksi dini konflik, membangun kepercayaan, serta menciptakan ruang dialog inklusif. Tantangan seperti ego sektoral, keterbatasan sumber daya, dan komunikasi yang belum efektif dapat diatasi dengan pelibatan aktif masyarakat, pemanfaatan teknologi informasi, serta penguatan kapasitas lokal. Dengan demikian, collaborative governance terbukti dapat menjadi pendekatan efektif dalam menciptakan stabilitas dan harmoni sosial di Kabupaten Sintang.

Konflik sosial di Kabupaten Sintang dipicu oleh perbedaan etnis, agama, ekonomi, dan perselisihan.Penanganannya sempat terhambat oleh ego sektoral dan keterbatasan sumber daya, tetapi dapat diatasi melalui kolaborasi lintas pihak dengan dukungan FKDM, mediasi lokal, serta kepemimpinan tokoh masyarakat yang mampu menciptakan ruang dialog netral.Upaya ini diperkuat dengan pelatihan fasilitator, pendekatan berbasis budaya, dan pemanfaatan teknologi seperti media sosial dan hotline pelaporan untuk deteksi dini.Optimalisasi peran dan peningkatan kapasitas pemimpin lokal menjadi kunci dalam membangun toleransi, kepercayaan, dan kerja sama jangka panjang guna menjaga stabilitas sosial di Sintang.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide sebagai berikut: . . 1. Menganalisis lebih dalam tentang peran dan strategi kepemimpinan fasilitatif dalam menciptakan ruang dialog inklusif dan membangun kepercayaan antarpihak di Kabupaten Sintang. Bagaimana pemimpin lokal dapat memfasilitasi diskusi secara empati dan netral, serta bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan di wilayah lain dengan konteks sosial yang berbeda?. . 2. Meneliti efektivitas penggunaan teknologi informasi, seperti media sosial dan hotline pelaporan, dalam mendeteksi dini potensi konflik sosial. Bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan resolusi konflik, serta apakah ada tantangan atau hambatan yang perlu diatasi?. . 3. Mengkaji sinergi antara pemerintah daerah, FKDM, dan organisasi masyarakat sipil dalam penanganan konflik sosial. Bagaimana kolaborasi lintas sektor ini dapat ditingkatkan dan bagaimana peran masing-masing pihak dapat dimaksimalkan untuk menciptakan stabilitas sosial yang berkelanjutan di Kabupaten Sintang dan wilayah serupa lainnya.

Read online
File size239.35 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test