STIKESHBSTIKESHB

JURKESSIAJURKESSIA

Turbidity merupakan salah satu parameter penting dalam menentukan kualitas air bersih. Air sungai yang digunakan oleh warga Desa Melayu Tengah sebagai sumber kebutuhan harian memiliki tingkat kekeruhan yang melebihi ambang standar kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis koagulan alami dari serbuk biji mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap penurunan kekeruhan air sungai. Metode yang digunakan adalah eksperimen sejati dengan desain post‑test only control group. Sampel air diambil dari Sungai Martapura, kemudian diperlakukan dengan dosis koagulan 0 mg/L, 25 mg/L, 50 mg/L, dan 75 mg/L, masing‑masing dengan enam ulangan. Analisis data dilakukan dengan uji ANOVA satu arah diikuti uji LSD (least significant difference). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan (p < 0,001) dengan dosis optimum sebesar 25 mg/L. Namun, nilai kekeruhan setelah perlakuan belum mencapai standar kualitas (< 3 NTU) menurut Permenkes No. 2 Tahun 2023. Penggunaan material ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, antara lain metode ekstraksi, penentuan dosis yang tepat, serta kemungkinan kombinasi dengan koagulan lain yang lebih reaktif. Sementara itu, masyarakat disarankan tetap menggunakan metode pemurnian air yang terbukti efektif, seperti filtrasi sederhana, sedimentasi dengan alum, atau sistem filtrasi rumah tangga berbasis pasir dan arang aktif.

Serbuk biji mengkudu (Morinda citrifolia L) menunjukkan potensi sebagai koagulan alami untuk mengurangi kekeruhan air sungai, dengan dosis optimum 25 mg/L memberikan penurunan kekeruhan yang signifikan.Meskipun penurunan tersebut masih berada di atas standar baku mutu < 3 NTU, hasil penelitian mengindikasikan bahwa efektivitas koagulan dipengaruhi oleh metode ekstraksi, formulasi, dan kombinasi dengan koagulan lain.Oleh karena itu, diperlukan pengembangan lebih lanjut guna meningkatkan kinerja koagulan alami ini sebelum dapat direkomendasikan sebagai metode utama pengolahan air rumah tangga.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki teknik ekstraksi optimal untuk koagulan alami dari biji mengkudu, dengan membandingkan berbagai pelarut, suhu, dan waktu serta mengevaluasi dampaknya terhadap kandungan aktiva dan efektivitas pengendapan partikel. Selain itu, penting untuk mengkaji interaksi sinergis antara koagulan biji mengkudu dan koagulan tradisional seperti alum atau polymer sintetis, guna menentukan kombinasi dosis yang dapat menurunkan kekeruhan hingga memenuhi standar < 3 NTU. Penelitian juga dapat melakukan uji coba skala pilot di lapangan pada beberapa sungai dengan karakteristik hidrologi dan kontaminan yang berbeda, untuk menilai kestabilan performa koagulan alami dalam kondisi nyata. Selanjutnya, analisis biaya‑manfaat dari penggunaan koagulan alami dibandingkan metode konvensional dapat memberikan gambaran ekonomis bagi implementasi luas. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi potensi modifikasi kimia atau fisik biji mengkudu, seperti pengeringan beku atau penambahan bahan bantu, untuk meningkatkan kapasitas muatan permukaan. Kajian jangka panjang mengenai dampak lingkungan residu organik setelah proses koagulasi juga penting untuk memastikan keamanan penggunaan berkelanjutan. Hasil dari rangkaian studi tersebut diharapkan dapat menghasilkan protokol praktis yang dapat diadopsi oleh masyarakat untuk pengolahan air bersih secara ramah lingkungan.

Read online
File size348.08 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test