STIKESBANYUWANGISTIKESBANYUWANGI

JURNAL PENDIDIKAN & PENGAJARAN (JUPE2)JURNAL PENDIDIKAN & PENGAJARAN (JUPE2)

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang menyandang disabilitas atau cacat fisik, mental, intelektual, sosial atau emosional. Contoh dari anak-anak ini termasuk anak dengan autisme atau keterbelakangan mental, tuna rungu, anak dengan kesulitan belajar, gangguan konsentrasi dan anak yang memiliki bakat luar biasa. Dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan, kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh anak-anak ini seringkali sangat berbeda dan lebih kompleks dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Untuk penelitian ini, kami menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya mengenal ciri-ciri dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental, emosional dan akademis. Dalam berbagai dimensi, seperti akademis, anak-anak ini mampu menjalani proses belajar dengan efektif. Dalam konteks sosial, mereka mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka. Dan dalam aspek emosional, mereka dapat mengarahkan emosi mereka ke arah yang positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh orang tua sendiri, seperti kurangnya pengetahuan tentang ciri-ciri dan klasifikasi anak berkebutuhan khusus secara mental, emosional dan akademis.

Penelitian menunjukkan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah yang menggantikan Anak Luar Biasa dan memiliki karakteristik serta klasifikasi yang beragam, sehingga memerlukan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi unik mereka.Pendidikan ABK mencakup jenjang formal mulai dari PAUD hingga pendidikan menengah.Penelitian selanjutnya sebaiknya memperdalam klasifikasi mental, emosional, dan akademik ABK, mengembangkan strategi intervensi yang efektif, serta melibatkan orang tua dan pendidik dalam proses pendidikan.

Penelitian berikutnya dapat mengeksplorasi penggunaan teknologi digital untuk identifikasi dini karakteristik mental‑emosional anak berkebutuhan khusus, sehingga mempermudah deteksi awal dan intervensi tepat waktu. Selanjutnya, studi longitudinal dapat menilai dampak penerapan kurikulum inklusif yang dimodifikasi pada prestasi akademik ABK dari tingkat dasar hingga menengah, guna memahami efektivitas strategi pembelajaran berkelanjutan. Selain itu, penelitian dapat mengembangkan model kolaboratif antara orang tua, guru, dan terapis dalam perancangan Rencana Pendidikan Individual (IEP) yang melibatkan partisipasi semua pihak, serta mengevaluasi kepuasan dan perkembangan anak sebagai indikator keberhasilan program.

  1. A Canadian Perspective on Learning Disabilities - Judith Wiener, Linda Siegel, 1992. canadian perspective... doi.org/10.1177/002221949202500602A Canadian Perspective on Learning Disabilities Judith Wiener Linda Siegel 1992 canadian perspective doi 10 1177 002221949202500602
  2. Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial pada Anak Autis Melalui Terapi Bermain Assosiatif | JHeS (Journal... doi.org/10.31101/jhes.1048Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial pada Anak Autis Melalui Terapi Bermain Assosiatif JHeS Journal doi 10 31101 jhes 1048
Read online
File size492.67 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test