SARI MUTIARASARI MUTIARA

JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKATJURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT

Kata kunci: Diare; Akses Air Minum; Higiene Penulis Korespondensi: Nofita Sari. . Latar belakang: Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia yang dapat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) dan terus menjadi salah satu faktor utama kematian, dengan tingkat fatalitas kasus (CFR) yang relatif tinggi. Sesuai Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019, tercatat sekitar 4.485.513 kasus diare pada semua kelompok usia, dengan tingkat cakupan pelayanan mencapai 61,7%. Tujuan: menganalisis hubungan antara akses air minum, akses higiene, dan ketersediaan sabun dengan prevalensi diare pada semua kelompok usia di Indonesia, menggunakan data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia 2023.. . Metode: menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional, yaitu pengukuran variabel independen dan dependen dilakukan dalam satu waktu. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tidak ada akses air minum, akses air minum tidak layak, akses air minum layak terbatas, akses air minum layak dasar, akses higiene terbatas, akses higiene dasar, proporsi ketersediaan sabun, sedangkan untuk variabel dependen penelitian ini adalah Prevalensi Dier pada Semua Umur menurut Provinsi.. . Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa hubungan antara prevalensi diare dengan variabel-variabel akses air minum dan higiene memiliki kekuatan dan arah yang bervariasi. Secara umum, variabel yang berhubungan signifikan dengan prevalensi diare adalah akses higiene terbatas, akses higiene dasar, dan proporsi ketersediaan sabun (p < 0,05), sedangkan variabel terkait akses air minum tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa faktor higiene memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan faktor akses air minum terhadap prevalensi diare pada semua umur.Variabel akses higiene terbatas terbukti memiliki hubungan positif yang signifikan dengan prevalensi diare (r = 0,483.p = 0,002), sedangkan akses higiene dasar menunjukkan hubungan negatif yang sangat kuat dan signifikan (r = −0,83.p = 0,002), yang mengindikasikan bahwa semakin baik akses higiene masyarakat, semakin rendah prevalensi diare.Selain itu, proporsi ketersediaan sabun juga berhubungan negatif secara signifikan dengan prevalensi diare (r = −0,503.p = 0,001), menegaskan pentingnya praktik cuci tangan pakai sabun sebagai upaya pencegahan diare.Sebaliknya, variabel tidak ada akses air minum, akses air minum tidak layak, akses air minum layak terbatas, dan akses air minum layak dasar tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan prevalensi diare (p > 0,05), meskipun secara arah hubungan masih menunjukkan kecenderungan tertentu.

Kaji ulang strategi intervensi WASH di daerah berkeliling di Tangerang dengan memfokuskan pada peningkatan akses kebersihan dasar, seperti fasilitas cuci tangan berair serta edukasi kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar; lakukan survei longitudinal di Provinsi Papua Tengah untuk mengevaluasi hubungan antara kualitas air dan perilaku hygiene secara bersamaan, guna menyesuaikan kebijakan intervensi yang lebih terintegrasi; dan rancang program pelatihan komunitas yang menekankan pentingnya pemeliharaan kualitas air dan kepatuhan kebersihan rumah tangga, dilengkapi dengan monitoring di tingkat desa guna menurunkan prevalensi diare secara berkelanjutan.

  1. Effect of Hand Hygiene on Infectious Disease Risk in the Community Setting: A Meta-Analysis | AJPH |... doi.org/10.2105/AJPH.2007.124610Effect of Hand Hygiene on Infectious Disease Risk in the Community Setting A Meta Analysis AJPH doi 10 2105 AJPH 2007 124610
Read online
File size262.82 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test