IPMIIPMI

Journal of Sustainable Community Development (JSCD)Journal of Sustainable Community Development (JSCD)

Sistem perawatan kesehatan modern beroperasi dalam lanskap bisnis pasca‑pandemi yang semakin kompetitif, di mana rumah sakit harus menyeimbangkan kepatuhan medis teknis dengan kelayakan komersial fungsional. Sementara literatur pemasaran layanan tradisional menekankan suara tunggal konsumen, penyampaian layanan kesehatan memiliki asimetri informasi yang menghalangi pasien untuk menilai akurasi klinis secara objektif. Untuk menjawab kesenjangan empiris dan teoretis ini, makalah konseptual ini mengembangkan kerangka kerja multi‑pemangku kepentingan yang mengintegrasikan model SERVQUAL milik Parasuraman, Model Citra Rumah Sakit Terintegrasi Wu, dan paradigma Diskrepansi Pelanggan‑Manajer Hult et al., serta menyajikan sembilan proposisi multilevel yang menjelaskan bagaimana citra rumah sakit dan dimensi layanan kualitas yang berbeda secara interaktif mendorong kepuasan dan loyalitas jangka panjang yang berkelanjutan. Akhirnya, kerangka ini memberikan jalur strategis bagi administrator klinis untuk menyelaraskan kesenjangan persepsi, mencapai kepatuhan finansial, dan berkontribusi aktif pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa‑Negara 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik).

Kerangka kerja multi‑pemangku kepentingan yang dikembangkan dalam makalah ini dapat memperkuat pencapaian Sustainable Development Goal 3 dengan memastikan layanan kesehatan yang teknis tepat, aman, serta mudah diakses, hormat, dan responsif terhadap komunitas.Dengan menyediakan pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengukur, dan meminimalkan kegagalan kualitas layanan, kerangka tersebut meningkatkan standar perawatan klinis rumah sakit dan mengubah peran institusi kesehatan swasta menjadi kontributor aktif bagi infrastruktur kesehatan publik yang adil dan berpusat pada pasien.Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji proposisi ini secara empiris dalam berbagai konteks geografis dan mengkaji bagaimana jalur hubungan tersebut berevolusi di era layanan kesehatan digital dan telemedicine.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana platform layanan kesehatan digital memoderasi hubungan antara dimensi kualitas layanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy) dan kepuasan pasien, sehingga menilai apakah penggunaan telemedicine memperkuat atau melemahkan efek positif kualitas layanan terhadap loyalitas pasien. Selain itu, sebuah studi komparatif antara rumah sakit publik dan rumah sakit swasta di Indonesia dapat menginvestigasi perbedaan kesenjangan persepsi antara manajemen, tenaga medis, dan pasien, serta mengidentifikasi faktor‑faktor institusional yang mempengaruhi akurasi estimasi manajer terhadap kepuasan dan loyalitas pasien. Selanjutnya, penelitian longitudinal yang melacak perubahan citra rumah sakit dan tingkat loyalitas pasien selama periode enam tahun ke depan, khususnya setelah periode pasca‑pandemi, akan memberikan wawasan tentang dinamika jangka panjang hubungan tersebut dan membantu rumah sakit merumuskan strategi berkelanjutan yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Ketiga arah studi ini akan memperkaya pemahaman empiris tentang kerangka multi‑pemangku kepentingan dan mendukung implementasi kebijakan yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Read online
File size444.5 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test