INABJINABJ

The Indonesian Biomedical JournalThe Indonesian Biomedical Journal

LATAR BELAKANG: Keracunan metanol dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan, terutama ketika terjadi cedera ginjal akut (AKI). Bukti yang muncul mengimplikasikan Endothelin-1 (ET-1) dan inflammasom Nucleotide-binding domain leucine-rich repeat-containing pyrin receptor 3 (NLRP3) dalam cedera ginjal, namun peran keduanya dalam AKI akibat metanol masih belum jelas. Sampai saat ini, belum ada penelitian yang menguji apakah hidroksiklorokuin atau asam folinat, yang diketahui memodulasi sinyal ET-1 dan NLRP3, dapat mengurangi cedera ginjal dalam kondisi ini. Penelitian ini mengevaluasi efek terapeutik keduanya pada model kelinci AKI akibat metanol.. METODE: Subjek hewan secara acak dibagi menjadi empat kelompok: kelompok kontrol yang menerima aquabidest, kelompok asam folinat yang menerima 2 mg/kg berat badan (BB) asam folinat intraperitoneal, kelompok hidroksiklorokuin yang menerima 30 mg/kg BB hidroksiklorokuin fosfat oral, dan kelompok kombinasi yang menerima asam folinat dan hidroksiklorokuin dengan dosis yang sama. Evaluasi histopatologi skor cedera tubular dan analisis imunohistokimia ekspresi ET-1 dan NLRP3 kemudian dilakukan.. HASIL: Ekspresi ET-1, NLRP3, dan skor cedera tubular secara signifikan lebih rendah pada kelompok hidroksiklorokuin, asam folinat, dan terapi kombinasi dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0.001). Ekspresi ET-1 paling rendah pada kelompok asam folinat (59.38±0.71%), diikuti oleh kelompok kombinasi (62.23±1.98%) dan kelompok hidroksiklorokuin (62.43±1.81%), dibandingkan dengan kelompok kontrol (72.14±1.02%). Ekspresi NLRP3 paling rendah pada kelompok kombinasi (58.94±1.05%), diikuti oleh kelompok asam folinat dan hidroksiklorokuin, yang menunjukkan nilai yang sama (60.57±1.38%), dibandingkan dengan kelompok kontrol (72.15±1.02%). Skor cedera tubular juga paling rendah pada kelompok kombinasi (27.07±3.16%), diikuti oleh kelompok hidroksiklorokuin (45.29±1.75%) dan kelompok asam folinat (48.38±2.49%), dibandingkan dengan kelompok kontrol (77.15±1.66%).. KESIMPULAN: Ekspresi ET-1 dan NLRP3, serta skor cedera tubular, secara signifikan lebih rendah pada semua kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol, menunjukkan bahwa hidroksiklorokuin dan asam folinat menunjukkan efek renoprotektif pada AKI akibat metanol, kemungkinan melalui modulasi jalur ET-1 dan NLRP3.

Penelitian ini menunjukkan bahwa asam folinat dan hidroksiklorokuin, baik sebagai monoterapi maupun dalam kombinasi, secara signifikan mengurangi ekspresi ET-1 dan NLRP3, serta skor cedera tubular, pada model kelinci AKI.Terapi kombinasi memberikan pengurangan terbesar pada skor cedera tubular, menyoroti efek komplementer agen-agen ini dalam mengurangi kerusakan ginjal akibat metanol.Temuan ini menggarisbawahi potensi asam folinat dan hidroksiklorokuin sebagai pilihan terapeutik untuk penanganan AKI akibat metanol dan menawarkan wawasan baru mengenai mekanisme dasar perlindungan ginjal.

Studi ini memberikan kabar baik bahwa hidroksiklorokuin dan asam folinat bisa membantu melindungi ginjal dari kerusakan akibat keracunan metanol. Untuk membuat penemuan ini lebih berguna bagi manusia, ada beberapa langkah penelitian lanjutan yang menarik. Pertama, karena penelitian ini hanya mencoba satu dosis dan satu waktu pemberian obat, akan sangat penting untuk mencari tahu dosis dan jadwal yang paling pas. Misalnya, berapa banyak obat yang paling efektif tanpa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, dan kapan waktu terbaik memberikannya setelah seseorang keracunan metanol? Mengetahui ini akan membantu dokter menggunakan obat-obatan ini dengan lebih aman dan maksimal. Kedua, meskipun penelitian ini berhasil pada kelinci, kita perlu melihat apakah hasilnya sama pada hewan yang lebih besar atau bahkan pada manusia. Jadi, pertanyaan besar selanjutnya adalah, apakah obat ini juga aman dan efektif untuk melindungi ginjal manusia yang keracunan metanol? Ini penting karena tubuh manusia mungkin bereaksi berbeda. Ketiga, untuk memahami lebih dalam bagaimana obat-obatan ini bekerja, peneliti bisa mencari tahu jalur-jalur lain di dalam tubuh yang terpengaruh, bukan cuma ET-1 dan NLRP3. Apakah ada proses lain yang membantu perlindungan ginjal atau bagaimana kedua obat ini saling membantu di tingkat sel? Menjelajahi hal ini akan membuka wawasan baru untuk menciptakan perawatan yang lebih baik dan lebih terarah di masa depan.

  1. Roles of Inflammasomes in Inflammatory Kidney Diseases. roles inflammatory kidney diseases mediators... hindawi.com/journals/mi/2019/2923072Roles of Inflammasomes in Inflammatory Kidney Diseases roles inflammatory kidney diseases mediators hindawi journals mi 2019 2923072
  2. Renoprotective Effects of Hydroxychloroquine and Folinic Acid via ET-1 and NLRP3 Modulation in Reducing... doi.org/10.18585/inabj.v17i4.3747Renoprotective Effects of Hydroxychloroquine and Folinic Acid via ET 1 and NLRP3 Modulation in Reducing doi 10 18585 inabj v17i4 3747
Read online
File size2.13 MB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test