UWKSUWKS

Jurnal Ilmiah Sosio AgribisJurnal Ilmiah Sosio Agribis

Sejak mulai tahun 2014, sejumlah petani jeruk Siam di Desa Temurejo yang berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi mulai mengganti tanaman jeruk Siamnya ke jeruk keprok Tejakula. Peralihan jenis komoditas ini mendukung kebijakan Direktoral Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. Akan tetapi, perkembangan pertumbuhan dan produksi tanaman jeruk keprok Tejakula yang diusahakan secara monokultur tersebut kurang maksimal dibandingkan dengan perkembangan pertumbuhan dan produksi jeruk keprok Tejakula di wilayah Provinsi Bali, yang merupakan daerah asal plasma nutfah jeruk keprok Tejakula ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial proyek investasi pengebunan jeruk keprok Tejakula secara monokultur di wilayah Kabupaten Banyuwangi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara finansial proyek investasi pengebunan jeruk keprok Tejakula secara monokultur per Ha teridentifikasi layak. Selanjutnya, apabila terjadi penurunan jumlah produksi dan harga hingga 5%, serta kenaikan biaya operasional variabel hingga 5% (dimana faktor lainnya dianggap konstan), secara finansial proyek investasi juga masih teridentifikasi layak. Faktor penurunan jumlah produksi dan harga produksi, relatif lebih sensitif dalam memberikan respon (pengaruh) terhadap kondisi kelayakan finansialnya.

Berdasarkan analisis finansial, investasi kebun jeruk keprok Tejakula secara monokultur (jarak tanam 5x5 m², bibit stek, usia ekonomi 15 tahun) di Kabupaten Banyuwangi layak (feasible) dengan discount rate 9%.Kelayakan finansial ini tetap bertahan bahkan ketika dihadapkan pada skenario penurunan produksi dan harga hingga 5% serta kenaikan biaya operasional variabel sebesar 5%.Dari analisis sensitivitas, faktor penurunan produksi dan harga terbukti lebih sensitif terhadap kelayakan investasi dibandingkan kenaikan biaya operasional variabel.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melanjutkan dan memperluas usaha pengebunan jeruk keprok Tejakula secara monokultur di Kabupaten Banyuwangi. Petani yang telah membudidayakan jeruk keprok Tejakula dapat melanjutkan usahanya, dan bagi yang berminat memulai usaha ini juga disarankan untuk berinvestasi tanpa keraguan. Selain itu, petani perlu menerapkan budidaya yang lebih intensif, karena faktor penurunan jumlah produksi (kuantitas) lebih sensitif dalam mempengaruhi kelayakan finansial investasi dibandingkan kenaikan biaya operasional. Penelitian lanjutan dapat fokus pada strategi intensifikasi budidaya yang optimal untuk meningkatkan produksi dan efisiensi biaya, serta mengkaji lebih lanjut dampak penurunan harga dan produksi terhadap kelayakan finansial proyek investasi.

Read online
File size392.61 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test