POLBANGTANBOGORPOLBANGTANBOGOR

Jurnal Penyuluhan PertanianJurnal Penyuluhan Pertanian

Belajar dari pengalaman sejarah di era Orde Baru (1970-1984) Indonesia mencapai swasembada beras dan meraih penghargaan dari FAO Tahun 1984, melalui program revolusi hijau. Namun keberhasilan ini menurun di Tahun 1990-an akibat degradasi lahan dan lemahnya regenerasi petani. Salah satu strategi percepatan swasembada pangan dengan melibatkan generasi muda dalam Gerakan Brigade Pangan sejak Tahun 2023. Pada pertengahan Tahun 2025, program ini sudah menunjukkan perkembangan signifikan dan berhasil merekrut petani muda yang potensil dalam pengembangan ekonomi nasional. Meskipun demikian, sejak awal pembentukan Brigade Pangan beragam tantangan yang dihadapi, di antaranya adalah lemahnya koordinasi dan sinergi antar lembaga. Lokasi penelitian ini adalah Kabupaten Sidrap dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan tantangan Brigade Pangan dalam mewujudkan swasembada pangan.

Penelitian ini mengidentifikasi 11 tantangan utama yang dihadapi Brigade Pangan (BP).Berdasarkan posisi dalam model Interpretive Structural Modeling (ISM), tantangan-tantangan tersebut terbagi menjadi dua kelompok.Tantangan independent, yang mencakup sulitnya menjalin MOU dengan pemilik lahan, rendahnya kemampuan SDM dalam mengoperasikan alsintan, dan keterbatasan teknologi, merupakan akar permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan pengelolaan lahan dan alsintan.Jika tidak segera diatasi, maka tantangan-tantangan di level dasar ini akan mengganggu fungsi utama BP dalam optimalisasi usaha tani akan terganggu.Sementara itu, tantangan linkage yang berupa koordinasi lintas sektor yang kurang, tumpang-tindih kebijakan, dan keterbatasan akses data menunjukkan masalah yang saling terkait dan berpotensi memperbesar kompleksitas serta risiko inefisiensi pengelolaan BP yang berkelanjutan.Posisi linkage ini bersifat strategis karena perbaikannya dapat mempermudah penyelesaian tantangan independent dan memperkuat fungsi BP secara menyeluruh.

Untuk mengatasi tantangan Brigade Pangan, diperlukan intervensi strategis pada dua level: independent dan linkage. Pada level independent, fokus pada penguatan kelembagaan melalui pelatihan khusus peningkatan kapasitas SDM dan teknologi spesifik lokasi, serta perbaikan prosedur MoU penguasaan lahan. Di level linkage, sinergi kebijakan diperlukan untuk mengurangi tumpang tindih, mengoptimalkan koordinasi lintas sektor, dan melaksanakan pendampingan penyuluh secara masif. Dengan pendekatan ini, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan Brigade Pangan dapat tercapai, sehingga ketahanan pangan nasional dapat diwujudkan.

  1. THE APPLICATION OF INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING FOR CASH WAQF DEVELOPMENT STRATEGIES IN INDONESIA... e-journal.unair.ac.id/JEBIS/article/view/9771THE APPLICATION OF INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING FOR CASH WAQF DEVELOPMENT STRATEGIES IN INDONESIA e journal unair ac JEBIS article view 9771
  2. Analisis Penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani pada Komunitas Petani Padi di Lokasi Food Estate | Jurnal... journal.ipb.ac.id/index.php/jupe/article/view/41400Analisis Penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani pada Komunitas Petani Padi di Lokasi Food Estate Jurnal journal ipb ac index php jupe article view 41400
  3. The Existence and Role of Indigenous Food Institution on Strengthening Foods Security of Rural Community... igsspublication.com/index.php/ijppr/article/view/73The Existence and Role of Indigenous Food Institution on Strengthening Foods Security of Rural Community igsspublication index php ijppr article view 73
  4. Radware Bot Manager Captcha. radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human... iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/748/1/012019Radware Bot Manager Captcha radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human iopscience iop article 10 1088 1755 1315 748 1 012019
Read online
File size440.47 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test