POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

KIAKIA

Hospitalisasi dapat memicu kecemasan yang signifikan pada anak prasekolah (usia 3–6 tahun) akibat pemisahan dari lingkungan familiar, prosedur medis invasif, dan keterbatasan strategi koping emosional. Terapi bermain merupakan pendekatan non‑farmakologis yang banyak direkomendasikan untuk mengurangi kecemasan pediatrik, dan CalmCube merupakan alat terapi bermain inovatif yang dirancang untuk melibatkan respons kognitif dan emosional anak melalui aktivitas interaktif yang sesuai usia. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi bermain CalmCube dalam mengurangi kecemasan pada anak prasekolah yang dirawat di rumah sakit, menggunakan desain kuasi‑eksperimental dengan kelompok kontrol pre‑test‑post‑test; sebanyak 38 anak dipilih secara purposif dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=19) dan kontrol (n=19). Tingkat kecemasan diukur dengan Preschool Anxiety Scale (PAS) sebelum dan sesudah intervensi, dan dianalisis dengan t‑test berpasangan dan independen. Hasil menunjukkan skor kecemasan rata‑rata pada kelompok intervensi menurun signifikan dari 37,10 (SD=19,83) menjadi 29,21 (SD=17,57) (p = 0,000), sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami penurunan kecil dari 44,78 menjadi 43,94 (p = 0,076). Analisis antar‑kelompok mengungkap perbedaan signifikan pada tingkat kecemasan pasca‑intervensi (p = 0,016), yang menegaskan efektivitas terapi CalmCube. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi bermain CalmCube dapat secara signifikan mengurangi kecemasan pada anak prasekolah yang dirawat, serta dapat diimplementasikan sebagai intervensi keperawatan non‑farmakologis selama masa hospitalisasi, dengan potensi meningkatkan ketahanan emosional dan hasil pemulihan pada pasien anak.

Studi ini menunjukkan bahwa terapi bermain CalmCube merupakan intervensi non‑farmakologis yang efektif dalam mengurangi kecemasan pada anak prasekolah yang dirawat di rumah sakit.Kelompok intervensi mengalami penurunan signifikan skor kecemasan dibandingkan kelompok kontrol, menegaskan bahwa aktivitas bermain terstruktur yang sesuai perkembangan dapat memberikan dukungan emosional selama masa hospitalisasi.Penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi efek jangka panjang terapi CalmCube, serta menguji keefektifannya pada kelompok usia dan kondisi medis yang berbeda serta integrasinya ke dalam protokol standar perawatan pediatrik.

Penelitian lanjutan dapat menguji pertanyaan apakah terapi bermain CalmCube memberikan efek penurunan kecemasan yang berkelanjutan pada anak prasekolah setelah masa rawat inap, dengan melakukan uji coba terkontrol secara acak (RCT) di beberapa rumah sakit dan menilai skor kecemasan selama tiga hingga enam bulan pasca intervensi. Selain itu, studi komparatif dapat mengeksplorasi bagaimana efektivitas CalmCube dibandingkan dengan bentuk terapi bermain non‑farmakologis lainnya, seperti terapi musik atau seni, dalam mengurangi kecemasan anak dengan menilai perubahan skor PAS dan kepuasan anak serta orang tua. Selanjutnya, penelitian dapat menyelidiki apakah karakteristik klinis seperti jenis penyakit (misalnya gangguan pernapasan versus gangguan pencernaan) atau faktor demografis seperti usia (anak usia 6–8 tahun) memoderasi manfaat CalmCube, sehingga dapat mengembangkan panduan penggunaan yang lebih terpersonalisasi. Dengan pendekatan ini, hasil penelitian diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang aplikasi jangka panjang, perbandingan metodologis, dan adaptasi intervensi sesuai kebutuhan spesifik pasien anak.

Read online
File size428.46 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test