BKUBKU

TriAxis Jurnal Adiguna Kesehatan Klinis dan KomunitasTriAxis Jurnal Adiguna Kesehatan Klinis dan Komunitas

Pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum diwajibkan berpuasa sebelum prosedur untuk mengurangi risiko aspirasi. Rasa haus adalah fenomena yang sering dialami oleh pasien setelah menjalani operasi, serta dampaknya sangat penting dalam konteks perawatan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ketidaknyamanan berdasarkan tingkat rasa haus akibat puasa pada pasien pasca operasi dengan anestesi umum. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 60 pasien yang dipilih secara purposive sampling di ruang pemulihan pasca anestesi RSUD R. Syamsudin, S.H Sukabumi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien mengalami rasa haus tingkat sedang hingga berat, dengan ketidaknyamanan berupa mulut dan tenggorokan kering. Sebanyak 98,3% pasien berpuasa selama 9 sampai 12 jam, namun sebagian besar 66,7% tidak mengalami dehidrasi. Durasi puasa yang panjang dapat meningkatkan rasa haus yang signifikan meskipun tanpa dehidrasi medis, sehingga intervensi nonfarmakologis dan peninjauan ulang protokol puasa perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan kenyamanan pasca operasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 60 pasien pasca operasi dengan anestesi umum di RSUD R.H Kota Sukabumi, diketahui bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berusia 17–25 tahun, memiliki status fisik ASA I, serta menjalani operasi dengan tingkat sedang dan durasi antara 30 menit hingga 2 jam.Rata-rata jumlah cairan masuk selama intraoperasi adalah 638,33 ml, dengan jumlah perdarahan sebesar 64,33 ml, dan cairan yang digunakan adalah Ringer Laktat.Setengah dari responden mengalami tingkat rasa haus sedang berdasarkan skala VAS.Ketidaknyamanan paling dominan yang dirasakan pasca operasi meliputi mulut kering (56,7%), bibir kering (51,7%), dan tenggorokan kering (50%).Selain itu, hampir seluruh responden (98,3%) mengalami puasa praoperasi dengan durasi 9–12 jam.Meskipun demikian, sebagian besar pasien tidak mengalami dehidrasi secara klinis (66,7%), sedangkan sisanya mengalami dehidrasi ringan (33,3%).Temuan ini mengindikasikan bahwa durasi puasa yang panjang dan prosedur anestesi umum dapat berkontribusi terhadap timbulnya rasa haus dan ketidaknyamanan pasca operasi, meskipun belum selalu disertai dengan tanda dehidrasi yang signifikan.Penelitian ini berkontribusi pada bidang keperawatan anestesi dengan memberikan wawasan tentang ketidaknyamanan pasien, yang dapat menginformasikan praktik dan pedoman untuk meningkatkan perawatan dan kenyamanan pasien selama operasi elektif.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan evaluasi ulang terhadap protokol puasa rumah sakit, terutama terkait durasi puasa yang panjang. Selain itu, penelitian ini juga menyarankan pengembangan intervensi nonfarmakologis seperti pemberian spray air dingin kepada pasien pasca operasi dengan anestesi umum berdasarkan tingkat rasa haus. Penelitian lanjutan dapat berfokus pada efektivitas intervensi tersebut dalam mengurangi rasa haus dan ketidaknyamanan pasca operasi, serta mengukur dampak positifnya terhadap pemulihan pasien.

  1. Qualifying thirst distress in the acute hospital setting – validation of a patient-reported outcome... doi.org/10.26550/2209-1092.1156Qualifying thirst distress in the acute hospital setting Ae validation of a patient reported outcome doi 10 26550 2209 1092 1156
Read online
File size214.24 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test