AMSIRAMSIR

Jurnal Litigasi AmsirJurnal Litigasi Amsir

Dualisme wewenang dalam pengujian peraturan perundang-undangan antara Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK) telah menimbulkan berbagai permasalahan, seperti ketidakpastian hukum, kontradiksi putusan, dan beban kerja yang berat di MA. Sistem ini menyebabkan kerancuan normatif dan teknis yang menghambat kepastian dan keadilan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji urgensi pengujian peraturan perundang-undangan secara satu atap di bawah MK dalam rangka menjamin kepastian hukum dan keadilan. Dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif dan analisis komparatif, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah MK dapat meningkatkan keselarasan hukum dan memperjelas peran kelembagaan. Hal ini sejalan dengan prinsip hierarki hukum dan didukung oleh praktik di berbagai negara lain. Dengan demikian, pengujian satu atap di bawah MK merupakan langkah strategis untuk memperkuat supremasi hukum dan memastikan keadilan di Indonesia.

Dualisme kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan antara Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK) menimbulkan permasalahan seperti ketidakpastian hukum, kontradiksi putusan, serta beban kerja yang berat di MA.Sistem ini menyebabkan kerancuan normatif dan teknis yang menghambat kepastian dan keadilan hukum.Pengujian peraturan perundang-undangan secara satu atap di bawah MK dinilai sejalan dengan prinsip hierarki hukum, di mana putusan MK harus diutamakan, serta didukung oleh praktik di berbagai negara lain.Dengan demikian, satu atap pengujian di MK merupakan langkah strategis untuk memperkuat supremasi hukum dan memastikan keadilan di Indonesia.

Untuk memperkuat supremasi hukum dan memastikan keadilan di Indonesia, diperlukan integrasi kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah Mahkamah Konstitusi (MK). Hal ini dapat meningkatkan keselarasan hukum dan memperjelas peran kelembagaan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji dampak integrasi kewenangan ini terhadap efisiensi dan efektivitas pengujian peraturan perundang-undangan, serta untuk memastikan bahwa MK memiliki kapasitas yang memadai untuk menangani beban kerja yang meningkat. Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi praktik-praktik terbaik dari negara-negara lain yang telah menerapkan sistem pengujian satu atap, dan bagaimana hal itu dapat diterapkan di Indonesia.

  1. Volume 1 Nomor 2, Juni 2020. kentangbet https medwinsoft volume nomor doi dejure v1i2 de jure jurnal... doi.org/10.33387/dejure.v1i2Volume 1 Nomor 2 Juni 2020 kentangbet https medwinsoft volume nomor doi dejure v1i2 de jure jurnal doi 10 33387 dejure v1i2
  2. Urgensi Judicial Review Satu Atap Oleh Mahkamah Konstitusi | Aris | de Jure Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum.... ejournal.unkhair.ac.id/index.php/deJure/article/view/1930Urgensi Judicial Review Satu Atap Oleh Mahkamah Konstitusi Aris de Jure Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum ejournal unkhair ac index php deJure article view 1930
  3. MODEL PENGUJIAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN SATU ATAP MELALUI MAHKAMAH KONSTITUSI | Legality : Jurnal... doi.org/10.22219/jihl.v25i2.6005MODEL PENGUJIAN PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN SATU ATAP MELALUI MAHKAMAH KONSTITUSI Legality Jurnal doi 10 22219 jihl v25i2 6005
Read online
File size324.81 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test