POLTEKKES KEMENKES BENGKULUPOLTEKKES KEMENKES BENGKULU

JKRJKR

Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan sangat esensial dalam memberikan pelayanan terhadap pasien. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis antara lain kondisi fisik, motivasi, kecemasan, kebiasaan, perkembangan intelektual, konsistensi, perasaan, dan pengalaman. Faktor tersebut dapat memberikan dukungan positif ataupun menurunkan kemampuan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor yang mempengaruhi penerapan keterampilan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Desain penelitian crossectional. Populasi penelitian ini perawat ruang rawat inap, sampel sebanyak 113 perawat. Instrumen yang digunakan kuesioner sebanyak 32 item pernyataan. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji pengaruh dengan regresi linier. Hasil penelitian di dapatkan responden (73%) berjenis kelamin perempuan, (78%) pendidikan bukan Ners, (91%) sudah menikah, (57%) pegawai Negeri Sipil, (53%) usia lebih dari 30 tahun, (58%) lama kerja < 6 tahun. Ada hubungan yang bermakna antara faktor jenis kelamin (p=0.005), lama kerja (p=0.045), motivasi (p=0.015), kecemasan (p=0.008), perkembangan intelektual (p=0.001), dan pengalaman (p=0.002) terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Tidak ada hubungan yang bermakna antara faktor usia, pendidikan, status perkawinan, status kepegawaian, kondisi fisik, perasaan, kebiasaan, konsistensi terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan (p>0.005). Perkembangan intelektual perawat dapat meningkatkan berpikir kritis yang paling dominan dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

Penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Curup dipengaruhi oleh lama masa kerja, motivasi, perkembangan intelektual, kebiasaan, dan pengalaman.Perkembangan intelektual perawat memiliki pengaruh dominan terhadap kemampuan berpikir kritis.Faktor-faktor seperti kondisi fisik, perasaan, kebiasaan, dan konsistensi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan penerapan berpikir kritis.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji pengaruh pelatihan berpikir kritis berbasis teknologi informasi terhadap keterampilan perawat dalam situasi darurat. Selain itu, studi tentang peran budaya organisasi rumah sakit dalam memfasilitasi berpikir kritis perawat juga diperlukan. Riset lebih lanjut tentang dampak sistem penilaian kinerja berbasis kritis terhadap motivasi dan kepuasan kerja perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan kompetitif.

Read online
File size396.66 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test