UNDIPUNDIP

JURNAL ILMU SOSIALJURNAL ILMU SOSIAL

Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana gelombang budaya Korea, atau Hallyu, memengaruhi penyusunan Undang-Undang Eliminasi Pikiran dan Budaya Reaksioner di Korea Utara. Penelitian ini menggunakan teori securitization dan metode deskriptif kualitatif. Sumber data mencakup jurnal, buku, situs resmi pemerintah Korea Selatan, serta laporan resmi dari media online di Asia Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa undang-undang yang diterbitkan oleh pemerintah Korea Utara disebabkan oleh asumsi negatif yang dibuat oleh pemimpin negara terhadap penyebaran Hallyu di negaranya. Berbagai distribusi konten budaya Korea Selatan dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan ideologi Korea Utara. Oleh karena itu, pemerintah Korea Utara membutuhkan undang-undang dengan kekuatan hukum dan kampanye ideologis untuk mencegah gangguan publik akibat pengaruh budaya asing, khususnya dari Korea Selatan.

Upaya berbagai pihak oleh pemerintah Korea Selatan untuk mengatasi dampak Krisis Keuangan Asia tahun 1997 berhasil meningkatkan stabilitas ekonomi dan citra negara tersebut.Dua perusahaan elektronik Korea Selatan berhasil masuk dalam lima besar penjualan produk.Produksi mobil Korea Selatan juga berhasil masuk dalam lima besar dunia.Namun, budaya Korea Selatan tidak diterima baik oleh Korea Utara.Takut terhadap pengaruh asing membuat pemerintah Korea Utara melakukan berbagai propaganda untuk mengendalikan situasi di negaranya.Propaganda tersebut dimulai dengan menetapkan budaya Korea Selatan sebagai kanker ganas, menilai kapitalisme sebagai sistem dengan manusia yang busuk, seniman Korea Selatan dianggap sebagai budak negara, dan slang Korea Selatan dianggap tidak sopan.Singkatnya, pemerintah Korea Utara menganggap produk budaya Korea Selatan sebagai masalah serius yang akan mengancam keamanan dan stabilitas negara.

1. Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak jangka panjang dari kebijakan kontrol budaya Korea Utara terhadap dinamika sosial dan identitas generasi muda. 2. Studi banding antara strategi diplomasi budaya Korea Selatan dan Korea Utara dapat memberikan wawasan tentang perbedaan pendekatan dalam menghadapi globalisasi. 3. Analisis peran teknologi digital dalam penyebaran budaya populer di Korea Utara, terutama melalui saluran ilegal, dapat membuka perspektif baru tentang resistensi budaya di tengah represi politik.

  1. Korean Culture and Sense of Shame - Zuk-Nae Lee, 1999. korean culture sense shame zuk nae lee skip main... doi.org/10.1177/136346159903600202Korean Culture and Sense of Shame Zuk Nae Lee 1999 korean culture sense shame zuk nae lee skip main doi 10 1177 136346159903600202
  2. Project MUSE -- Verification required!. project muse verification required order better serve keep site... doi.org/10.1353/jod.2013.0027Project MUSE Verification required project muse verification required order better serve keep site doi 10 1353 jod 2013 0027
Read online
File size378.43 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test