UNDWIUNDWI

WIDYAACCARYAWIDYAACCARYA

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemaknaan Kurikulum Merdeka sebagaimana dipahami oleh 10 guru dan 40 siswa sekolah dasar yang berlokasi di Kecamatan Buleleng. Metode fenomenologis kualitatif digunakan untuk menggali pengalaman subjektif pelaku pendidikan dalam menerapkan kurikulum tersebut. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasilnya mengungkap tiga tema utama: (1) Kurikulum Merdeka dimaknai sebagai ruang kebebasan pedagogis yang memberikan fleksibilitas dalam mendesain pembelajaran yang sesuai konteks; (2) pelaksanaannya dihadapkan pada tantangan seperti keterbatasan pemahaman konsep, minimnya pelatihan, dan kesiapan tidak merata; dan (3) kurikulum ini mendorong pergeseran relasi antara guru dan siswa menuju pola interaksi yang lebih setara, dialogis, dan manusiawi. Temuan menunjukkan bahwa makna Kurikulum Merdeka tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman, konteks institusional, dan dinamika sosial di ruang kelas. Penelitian menegaskan pentingnya dukungan sistemik dan refleksi pedagogis dalam memastikan implementasi kurikulum yang bermakna dan berkelanjutan di SD Kecamatan Buleleng.

Kurikulum Merdeka dipahami berbeda oleh guru dan siswa, tergantung pengalaman, kesiapan, dan konteks sekolah.kebebasan pedagogis, tantangan implementasi, dan perubahan hubungan guru‑siswa.Keberhasilan implementasi berhubungan erat dengan dukungan sistemik, pelatihan, dan refleksi pedagogis, sehingga kurikulum ini menjadi proses yang terus dibentuk melalui interaksi dan pengalaman konkret di ruang kelas.

Penelitian selanjutnya dapat memusatkan perhatian pada bagaimana guru mengadaptasi strategi pembelajaran diferensiasi di lingkungan sekolah yang memiliki akses digital terbatas, sehingga dapat menilai dampak perbedaan infrastruktur terhadap efektivitas Kurikulum Merdeka; studi komparatif juga penting untuk mengeksplorasi persepsi guru dan siswa di daerah perkotaan versus pedesaan, sehingga dapat dijadikan dasar kebijakan yang lebih responsif terhadap konteks lokal; serta penelitian longitudinal perlu dilakukan untuk menelusuri perubahan dinamika hubungan guru‑siswa dan kebebasan pedagogis dari waktu ke waktu, guna memahami bagaimana transformasi ini memengaruhi perkembangan karakter dan motivasi belajar siswa.

Read online
File size169.61 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test