STIQ AMUNTAISTIQ AMUNTAI

Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan HaditsAl-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits

Frasa Manna wa Salwa dalam Q.S. al-Baqarah [2]:57 bukan sekadar kisah historis tentang rezeki langit yang dikaruniakan kepada Bani Israil, melainkan menjadi simpul penting dalam wacana tafsir lintas zaman yang memperlihatkan dinamika pergeseran makna dari literalitas ke simbolisme kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi makna Manna wa Salwa dalam perspektif tafsir klasik dan kontemporer, serta menggali relevansinya dalam kehidupan modern melalui pendekatan komparatif. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap tafsir Ibn Katsir, al-Qurtubi, al-Munir, dan al-Misbah. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan menekankan analisis terhadap kecenderungan metodologis dan interpretatif dari masing-masing mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir klasik umumnya menekankan aspek tekstual dan historis, di mana manna dimaknai sebagai zat manis alami seperti madu atau getah pohon, dan salwa sebagai burung puyuh yang dagingnya dapat dikonsumsi. Sebaliknya, tafsir kontemporer membuka ruang interpretasi yang lebih fungsional, di mana keduanya tidak hanya dipahami sebagai objek fisik semata, tetapi juga sebagai simbol dari rezeki ilahi yang bergizi dan menunjang daya tahan fisik manusia. Riset ini mengembangkan dimensi kontekstual bahwa manna di era sekarang dapat dipadankan dengan makanan bergizi tinggi seperti kurma, madu, atau suplemen alami, sementara salwa dapat dimaknai sebagai protein hewani seperti ayam, bebek, atau ikan yang kaya akan nutrisi.

Penelitian ini menegaskan bahwa penafsiran terhadap manna dan salwa dalam al-Quran tidak bersifat tunggal maupun final, melainkan terbuka bagi pelbagai pendekatan yang mencerminkan konteks intelektual masing-masing zaman.Tafsir klasik menekankan makna historis dan tekstual, sementara tafsir kontemporer lebih menekankan aspek simbolik dan relevansi dengan kehidupan modern.Dengan demikian, manna dan salwa dapat dimaknai sebagai representasi segala bentuk pangan bergizi yang diberikan Allah di berbagai zaman, seperti kurma, madu, ayam, atau ikan.

Berdasarkan analisis terhadap latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi implikasi teologis dari interpretasi simbolik manna dan salwa terhadap konsep rezeki dan kemandirian manusia. Kedua, studi komparatif yang lebih luas dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai tradisi tafsir dari berbagai belahan dunia, termasuk tafsir-tafsir dari kalangan Syiah dan Sufi, untuk mendapatkan perspektif yang lebih komprehensif. Ketiga, penelitian interdisipliner yang menggabungkan kajian al-Quran dengan ilmu gizi dan kesehatan dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi dan manfaat kesehatan dari makanan-makanan yang dianggap sebagai padanan kontekstual dari manna dan salwa, serta mengkaji dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental manusia. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Islam dan memberikan kontribusi positif bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran-ajaran al-Quran dalam konteks kehidupan modern.

  1. Your SEO optimized title. manna salwa semantik el furqania jurnal ushuluddin ilmu keislaman seo optimized... ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/elfurqania/article/view/5534Your SEO optimized title manna salwa semantik el furqania jurnal ushuluddin ilmu keislaman seo optimized ejournal kopertais4 madura index php elfurqania article view 5534
  2. Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontemporer)... jurnal.stiq-amuntai.ac.id/index.php/al-muhith/article/view/5092Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q S Al Baqarah 2 57 Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontemporer jurnal stiq amuntai ac index php al muhith article view 5092
Read online
File size331.22 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test