STIQ AMUNTAISTIQ AMUNTAI

Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan HaditsAl-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits

Kesehatan mental merupakan aspek fundamental dalam kesejahteraan manusia, yang secara langsung memengaruhi kualitas hidup individu serta stabilitas sosial secara kolektif. Dalam ajaran Islam, berbagai bentuk ibadah seperti doa, dzikir, shalat, dan puasa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan mental dan spiritual seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep self-healing dalam Al-Quran melalui pendekatan tafsir maqāṣidī, dengan menyoroti relevansinya terhadap praktik terapi psikologis modern. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), yang merujuk pada karya tafsir Ibnu Āsyūr, Sayyid Qutb, dan Rasyid Riḍā. Hasil Analisis tematik ayat-ayat terkait, menunjukkan bahwa self-healing Islami berakar pada maqāşid asy-syariah, khususnya ḥifẓ al-nafs and ḥifẓ al-aql. Praktik ibadah dalam Islam memiliki korelasi dengan pendekatan terapi modern seperti MBT, CBT, dan Self-Regulation Therapy. Penelitian ini berkontribusi dalam mengintegrasikan tafsir maqāşidī dan psikologi, serta menawarkan pendekatan spiritual Islam dalam terapi mental.

Penelitian ini menegaskan bahwa konsep self-healing dalam Islam, berlandaskan pada maqāşid asy-syariah seperti ḥifẓ al-nafs dan ḥifẓ al-aql, diwujudkan melalui praktik doa, dzikir, shalat, dan puasa yang berfungsi sebagai mekanisme psikologis untuk menjaga stabilitas mental dan emosional.Doa dan dzikir selaras dengan Mindfulness-Based Therapy (MBT) dalam mengelola stres dan menenangkan pikiran, sementara shalat sejalan dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk kontrol emosi, dan puasa merefleksikan Self-Regulation Therapy dalam pengendalian diri.Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam, melalui pendekatan tafsir maqāşidī, menawarkan maslahat psikologis yang relevan dengan kebutuhan modern dan mengintegrasikan spiritualitas Islam dengan prinsip-prinsip ilmiah terapi kesehatan mental.

Penelitian ini secara konseptual telah menguraikan landasan spiritual bagi kesehatan mental. Untuk melengkapi dan memperdalam pemahaman ini, beberapa arah studi lanjutan dapat dieksplorasi. Pertama, sangat penting untuk melakukan studi empiris lebih lanjut, bukan hanya mengukur efektivitas secara umum, melainkan dengan merancang program intervensi berbasis ibadah spesifik (misalnya fokus pada dzikir atau shalat yang disesuaikan) dan mengujinya pada kelompok klinis tertentu, seperti individu dengan gangguan kecemasan atau depresi ringan. Penelitian ini dapat menggunakan metode eksperimental terkontrol untuk membandingkan hasilnya dengan intervensi psikologis konvensional, sehingga dapat memberikan bukti ilmiah yang kuat tentang potensi terapi spiritual Islam. Kedua, mengingat adanya korelasi dengan temuan neurosains, penelitian mendatang dapat menyelidiki mekanisme fisiologis dan neurologis yang lebih mendalam. Misalnya, dengan mengukur perubahan kadar hormon stres seperti kortisol dan neurotransmitter kebahagiaan seperti serotonin dan dopamin sebelum dan sesudah praktik ibadah tertentu, atau menggunakan teknik pencitraan otak untuk memahami bagaimana aktivitas spiritual mempengaruhi struktur dan fungsi otak. Ketiga, melampaui fokus individu, studi dapat mengkaji dampak kolektif dari praktik self-healing Islami dalam konteks sosial. Bagaimana komunitas yang aktif dalam shalat berjamaah atau kegiatan dzikir bersama menunjukkan tingkat kesejahteraan mental yang berbeda dibandingkan dengan komunitas lain? Analisis ini akan membantu memahami dimensi sosial dari kesehatan mental Islami, termasuk dampaknya terhadap solidaritas sosial dan ketahanan psikologis komunal di tengah tekanan kehidupan modern.

Read online
File size440.57 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test