IDEBAHASAIDEBAHASA

IdeBahasaIdeBahasa

Cerita Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis merupakan karya fiksi yang secara tidak langsung provokatif dengan membangkitkan kesadaran masyarakat timur, yang pada masa itu diwakili oleh kehidupan masyarakat Minangkabau, untuk menyadari ketidakberdayaan mereka, mengambil inisiatif, serta mengekspresikan suara-suara yang terdiam. Cerpen ini mengarahkan pembaca untuk melakukan gerakan reformis terhadap tradisi yang telah mereka jalani berabad-abad akibat kolonialisme. Ditulis pada era 1990-an, ketika banyak ulama Minangkabau lebih memfokuskan perhatian pada pendidikan dan aktivitas intelektual dibandingkan perlawanan fisik, cerita ini memperlihatkan bagaimana wacana orientalis menjadi sistem ide yang memengaruhi pemikiran melalui jaringan kepentingan dan makna dalam konteks hegemoni kolonial. Surau dijadikan simbol lembaga yang digunakan oleh pihak kolonial untuk memudahkan penanaman ideologi dan agama sebagai sarana pengendalian masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi wacana pascakolonial dalam cerpen tercermin pada konsep demonisasi, dehumanisasi, dan hegemoni Barat, di mana kultur timur dibangun sebagai kuno, tertinggal, dan bodoh. Melalui figur Ajo Sidi sebagai agen, masyarakat timur terasingkan, dihasut, hingga mengalami identitas terpecah dalam proses dehumanisasi, yang dipertahankan tanpa kekerasan fisik.

Navis secara implisit merefleksikan proses kontestasi wacana pascakolonial melalui konsep demonisasi, dehumanisasi, dan hegemoni Barat.Demonisasi dan dehumanisasi muncul dari konstruksi biner budaya Timur sebagai primitif dan budaya Barat sebagai modern, sehingga Barat berhasil mendominasi pola pikir serta memengaruhi karakter lokal menjadi teralienasi.Selanjutnya, hegemoni Barat berlangsung tanpa kekerasan fisik, namun cukup dengan propaganda ideologis yang digerakkan oleh figur agen pascakolonial seperti Ajo Sidi untuk mewujudkan identitas hibrida.

Ke depannya, penelitian dapat mengkaji secara mendalam bagaimana demonisasi dan dehumanisasi yang ditemukan dalam Robohnya Surau Kami membentuk persepsi dan identitas budaya masyarakat Minangkabau kontemporer melalui studi sosioliterer yang memadukan wawancara masyarakat dengan analisis teks untuk mengukur tingkat penerimaan wacana pascakolonial. Selain itu, sebuah studi komparatif lintas karya sastra daerah lain di Sumatera Barat atau Nusantara dapat mengungkap perbedaan atau kesamaan konstruksi wacana pascakolonial, terutama pola mimikri dan hibriditas karakter, guna melihat dinamika penolakan maupun adaptasi budaya timur terhadap wacana Barat. Terakhir, penelitian selanjutnya dapat menerapkan metode kuantitatif berupa survei pembaca untuk mengevaluasi dampak propaganda ideologis yang dinarasikan oleh agen pascakolonial seperti Ajo Sidi dalam membentuk kesadaran kritis serta pilihan identitas pembaca terhadap kultur timur dan Barat.

  1. #identitas budaya#identitas budaya
  2. #pola pikir#pola pikir
Read online
File size752.17 KB
Pages14
Short Linkhttps://juris.id/p-1aX
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test