ISDIKKIERAHAISDIKKIERAHA

Langua: Journal of Linguistics, Literature, and Language EducationLangua: Journal of Linguistics, Literature, and Language Education

Kesopanan linguistik telah menjadi perbincangan yang menarik di antara para ahli bahasa. Banyak pemikiran dan konsep telah dibangun untuk menjelaskan fenomena kesopanan linguistik. Dalam kenyataannya, terdapat kontroversi di antara konsep atau model ini. Namun, model-model yang tersedia saat ini cenderung berfokus pada komunikasi langsung (tatap muka). Bagaimana dengan komunikasi virtual publik? Artikel ini bertujuan untuk membahas kesopanan linguistik dalam komunikasi virtual publik di mana elemen penting dalam model kesopanan linguistik yang ada saat ini dapat diuji. Dengan menelusuri komentar dari beberapa video di YouTube, kami menemukan bahwa kesopanan positif adalah polaritas kesopanan yang paling banyak digunakan. Sementara itu, kesopanan negatif masih terhitung lebih sedikit meskipun dengan strategi bald. Dengan menggunakan analisis deskriptif, kami mengekspresikan pendapat bahwa kesopanan positif tidak lagi menjadi strategi komunikasi dalam komunikasi virtual publik melainkan menjadi norma. Kesopanan linguistik hanya benar-benar teridentifikasi dalam kesopanan negatif karena meskipun mereka tidak saling mengenal dan oleh karena itu jarak sosial tidak dapat diukur, mereka tetap menggunakan kesopanan negatif untuk menjaga harga diri mereka dan orang-orang yang mereka komunikasikan. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa kesopanan linguistik dalam komunikasi virtual publik adalah tindakan penyelamatan wajah, terutama kesopanan negatif.

Dari diskusi di atas, kami menyimpulkan bahwa dalam komunikasi virtual publik, semua strategi kesopanan linguistik dapat ditemukan (positif, negatif, dan bald).Namun, ekspresi yang kami anggap membawa nilai kesopanan tidak selalu diucapkan dengan arti yang sama.Artinya, tidak semua ekspresi kesopanan menjalankan fungsi sosialnya sebagaimana yang dibahas dalam model kesopanan linguistik yang tersedia.Dalam komunikasi virtual publik di mana strata sosial atau jarak (D) dan Peringkat Absolut (R) tidak dapat diukur, nilai kesopanan hanya dapat diidentifikasi dan diukur melalui tata bahasa dan formalitas ekspresi.Dengan cara ini, kami menemukan bahwa kesopanan positif telah menjadi norma dalam komunikasi virtual publik.Kami dapat berasumsi bahwa ini adalah hasil dari memudarnya batas sosial dalam komunikasi virtual publik.Oleh karena itu, kesopanan positif tidak lagi berfungsi untuk menciptakan penerimaan atau suasana intim, tetapi telah menjadi norma bagi orang asing untuk berkomunikasi.

Penelitian selanjutnya seharusnya dapat mengeksplorasi bagaimana kesopanan negatif dalam komunikasi virtual publik dapat diintegrasikan dengan konteks sosial yang lebih luas. Pertanyaan penelitian seperti, Apakah faktor demografis, seperti usia dan latar belakang pendidikan mempengaruhi cara individu mengekspresikan kesopanan dalam komentar mereka? sangat penting untuk dipertimbangkan. Selain itu, kajian yang membandingkan kesopanan linguistik di berbagai platform media sosial lainnya, seperti Instagram atau Twitter, dapat memberikan wawasan yang lebih detail mengenai dinamika kesopanan dalam ruang komunikasi yang berbeda. Dengan demikian, studi mengenai kesopanan linguistik tidak hanya terfokus pada YouTube tetapi juga dalam konteks yang lebih luas dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang perilaku berbahasa di era digital ini.

  1. #tatap muka#tatap muka
  2. #bandar lampung#bandar lampung
Read online
File size954.34 KB
Pages17
Short Linkhttps://juris.id/p-196
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test