SMARTPUBLISHERSMARTPUBLISHER

Journal of Management Economics and Financial AccountingJournal of Management Economics and Financial Accounting

Kinerja karyawan merupakan aspek krusial yang menentukan kualitas layanan publik dan efektivitas suatu organisasi, termasuk lembaga pemerintahan. Di era globalisasi dan tuntutan modernisasi saat ini, kinerja karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal organisasi tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal, seperti pendidikan dan pelatihan, motivasi, dan disiplin kerja. Di Indonesia, salah satu lembaga pemerintah yang berperan penting dalam memantau dan menegakkan peraturan adalah Inspektorat Daerah, termasuk Inspektorat Kabupaten Kampar. Sebagai unsur pengawas pemerintah daerah, Inspektorat Kabupaten Kampar memainkan peran krusial dalam meningkatkan efektivitas pengawasannya terhadap kualitas laporan keuangan dan akuntabilitas kinerja perangkat daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan dan pelatihan, motivasi, dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan di Kantor Inspektorat Kabupaten Kampar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh 64 karyawan di Kantor Inspektorat Kabupaten Kampar. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sensus, sehingga memanfaatkan seluruh populasi sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan (diklat), motivasi, dan disiplin kerja secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan di Kantor Inspektorat Kabupaten Kampar. Secara parsial, pendidikan dan pelatihan (diklat) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, motivasi tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dan disiplin kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan di Kantor Inspektorat Kabupaten Kampar. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat motivasi kerja karyawan, baik dalam bentuk motivasi berprestasi, semangat kerja, pengakuan, maupun tanggung jawab, belum berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kinerja karyawan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan, penguatan motivasi kerja, dan penerapan disiplin kerja yang baik dapat meningkatkan kinerja karyawan.

Studi ini mengungkapkan bahwa mekanisme organisasi yang terstruktur, seperti program pendidikan dan pelatihan serta penegakan disiplin kerja yang konsisten, memiliki peran dominan dalam meningkatkan kinerja karyawan di lembaga pengawas sektor publik dibandingkan dengan motivasi kerja umum.Secara teoretis, dalam organisasi publik yang sangat teregulasi, peningkatan kinerja lebih dipengaruhi oleh intervensi struktural dan prosedural, di mana pendidikan dan pelatihan memperkuat kompetensi teknis, dan disiplin kerja memastikan kepatuhan terhadap standar operasional.Meskipun motivasi penting sebagai faktor pemeliharaan stabilitas kerja, namun tidak secara langsung berkontribusi pada peningkatan kinerja terukur tanpa didukung struktur organisasi yang memadai dan sistem kinerja yang jelas.

Penelitian lanjutan sangat disarankan untuk memperdalam pemahaman kita tentang kinerja karyawan di lembaga pengawasan pemerintah daerah, khususnya mengingat temuan menarik terkait motivasi kerja. Pertama, mengingat studi ini menemukan bahwa motivasi tidak memiliki efek signifikan, penelitian di masa depan dapat mengeksplorasi secara lebih rinci bagaimana faktor-faktor kontekstual yang spesifik dalam lingkungan birokrasi, seperti persepsi keadilan sistem penilaian kinerja, transparansi jalur karir, atau budaya organisasi yang menekankan inovasi versus kepatuhan, dapat bertindak sebagai moderator atau mediator terhadap pengaruh motivasi intrinsik terhadap kinerja. Hal ini akan membantu mengurai mengapa motivasi, yang secara teoritis penting, menunjukkan hasil yang tidak signifikan dalam konteks ini, mungkin dengan menyelidiki peran motivasi sebagai faktor pemeliharaan. Kedua, untuk mengatasi keterbatasan data self-reported dan memperluas pemahaman terhadap 44,4% varian kinerja yang tidak dijelaskan, pendekatan penelitian campuran (mixed-method) akan sangat berharga. Pendekatan ini bisa menggabungkan survei kuantitatif dengan wawancara mendalam atau studi kasus untuk menangkap nuansa faktor interpersonal seperti gaya kepemimpinan atasan langsung, dinamika tim, atau dampak dari sistem kompensasi non-moneter yang mungkin lebih relevan dalam mendorong kinerja di sektor publik. Ketiga, mengingat desain studi ini yang bersifat cross-sectional, penelitian longitudinal sangat diperlukan untuk mengidentifikasi hubungan kausal yang lebih kuat dan melacak perubahan kinerja dari waktu ke waktu. Misalnya, studi dapat memantau dampak jangka panjang dari implementasi program pelatihan baru atau reformasi kebijakan disiplin kerja, serta mengevaluasi bagaimana resistensi atau adaptasi karyawan terhadap perubahan tersebut berkembang, memberikan wawasan tentang keberlanjutan dan efektivitas intervensi sumber daya manusia di lingkungan inspektorat. Ide-ide ini akan memberikan kerangka kerja yang lebih komprehensif untuk meningkatkan kinerja di organisasi pengawasan publik.

  1. Determinants of Employee Performance in Regional Government Inspectorates: The Role of Education and... doi.org/10.69714/d7bbm531Determinants of Employee Performance in Regional Government Inspectorates The Role of Education and doi 10 69714 d7bbm531
Read online
File size447.76 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test