UNTADUNTAD

Preventif : Jurnal Kesehatan MasyarakatPreventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat

Masalah gizi pada anak usia sekolah dasar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola makan, tingkat ekonomi, pendidikan orang tua, dan lingkungan sekolah. Anak-anak yang tidak mendapatkan asupan gizi yang seimbang lebih rentan terhadap stunting, wasting, dan obesitas yang dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Hasil SSGI 2022 menunjukkan penurunan stunting secara nasional dari 24,4% (2021) menjadi 21,6% (2022). Sementara itu, wasting meningkat dari 7,1% menjadi 7,7%. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode studi cross-sectional yang menganalisis data pada satu waktu tertentu. Lokasi penelitian adalah SDN 8 Batu, Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidendreng Rappang. Populasi penelitian adalah seluruh 53 siswa SDN 8 Batu dan seluruh populasi diambil menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara pola makan (P=0,048) dengan status gizi, sedangkan aktivitas fisik (P=0,573), ekonomi (P=0,273), dan lingkungan sekolah (P=0,505) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi.

Diet memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi siswa (p = 0,048).Siswa dengan pola makan seimbang cenderung memiliki status gizi yang lebih baik, meskipun hal ini juga sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kebiasaan orang tua dalam menyiapkan makanan sehat.Sebaliknya, aktivitas fisik (p = 0,573), kondisi ekonomi (p = 0,273), dan lingkungan sekolah (p = 0,505) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, yang berarti bahwa anak-anak dengan kondisi ekonomi yang cukup atau lingkungan sekolah yang baik tidak selalu memiliki status gizi normal jika tidak disertai dengan kebiasaan makan yang tepat.Disarankan agar sekolah meningkatkan program pendidikan gizi yang melibatkan aktif guru dan orang tua, seperti melalui konseling rutin dan kebiasaan membawa bekal makan siang sehat ke sekolah.Orang tua diharapkan untuk lebih memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh anak setiap hari, mengurangi makanan instan, dan memastikan anak-anak sarapan sebelum pergi ke sekolah.Selain itu, pusat kesehatan dan tenaga kesehatan perlu melakukan pemantauan dan konseling gizi yang lebih sering di sekolah, sehingga pengetahuan orang tua dan siswa mengenai pentingnya gizi seimbang dapat meningkat.Untuk peneliti di masa depan, disarankan untuk meningkatkan jumlah sampel dan memasukkan variabel lain seperti pengaruh media, kebiasaan makan di rumah, dan kondisi psikologis anak yang mungkin juga berperan dalam status gizi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi pengaruh media, terutama media sosial, terhadap kebiasaan makan anak sekolah. Kedua, penting untuk menyelidiki hubungan antara kondisi psikologis anak dengan status gizi mereka, terutama dalam konteks stres dan kecemasan yang mungkin mempengaruhi pola makan. Ketiga, penelitian tentang pengaruh kebiasaan makan di rumah terhadap status gizi anak sekolah juga dapat menjadi fokus penelitian selanjutnya. Dengan mempertimbangkan saran-saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi anak sekolah dan mengembangkan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kualitas gizi mereka.

  1. Hubungan Makronutrien Ibu Trimester III dengan Panjang Badan Lahir di Rsia Khadijah dan Masyita | Fakumi... doi.org/10.33096/fmj.v1i1.9Hubungan Makronutrien Ibu Trimester III dengan Panjang Badan Lahir di Rsia Khadijah dan Masyita Fakumi doi 10 33096 fmj v1i1 9
Read online
File size274.61 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test