IAINAMBONIAINAMBON

al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islamal-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Islam tidak membeda-bedakan etnis, ras, dan lain sebagainya. Manusia semuanya sama, yang membedakan mereka adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam Islam, pendidikan multikultural mencerminkan tingginya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan dan tidak ada perbedaan di antara manusia dalam bidang ilmu. Di Indonesia, pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh, guna membongkar praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan. Pendidikan multikultural didasarkan pada gagasan keadilan sosial dan persamaan hak dalam pendidikan. Tulisan ini mengkritisi James Banks yang menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan, namun idealnya dalam pembelajaran hanya membutuhkan penanaman kesadaran kepada siswa yang berdasarkan nilai-nilai kebersamaan dan keislaman, serta memfasilitasi proses belajar-mengajar yang mengubah perspektif monokultural yang esensial, penuh prasangka, dan diskriminatif menjadi perspektif multikultural yang menghargai keragaman dan perbedaan, toleran, dan terbuka.

Pendidikan multikultural adalah pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh guna membongkar kekurangan, kegagalan, dan praktik diskriminatif dalam proses pendidikan.Pendidikan multikultural didasarkan pada keadilan sosial dan persamaan hak, sejalan dengan ajaran Islam yang menegaskan kesetaraan manusia berdasarkan ketakwaan, bukan etnis atau ras.Pendidikan harus mengubah perspektif monokultural yang diskriminatif menjadi perspektif multikultural yang menghargai keragaman, toleran, dan terbuka, sehingga dunia pendidikan tidak menjadi penyebab ketegangan sosial, melainkan sarana membangun peradaban yang berkebudayaan.

Penelitian lanjutan dapat menggali bagaimana penerapan prinsip pendidikan multikultural berbasis filsafat Islam dapat diukur dampaknya terhadap sikap toleransi siswa di sekolah-sekolah negeri yang heterogen, dengan membuat instrumen penilaian berbasis nilai-nilai takwa dan saling mengenal sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Hujurat:13. Selain itu, perlu diteliti bagaimana peran keluarga dan komunitas lokal dalam memperkuat atau melemahkan upaya sekolah dalam menanamkan kesadaran multikultural, mengingat pendidikan bukan hanya tanggung jawab institusi formal. Terakhir, sebuah studi komparatif bisa dilakukan antara kurikulum pendidikan multikultural yang berbasis nilai Islam dengan kurikulum sekuler di Indonesia, untuk melihat mana yang lebih efektif dalam mengurangi prasangka antar kelompok dan membangun identitas bersama yang inklusif, tanpa mengabaikan kekayaan budaya lokal dan keberagaman agama.

  1. #instrumen penilaian#instrumen penilaian
  2. #filsafat islam#filsafat islam
Read online
File size324.91 KB
Pages14
Short Linkhttps://juris.id/p-18f
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test