ALMAATAALMAATA

Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)

Latar Belakang: Prevalensi gizi lebih pada remaja di Indonesia mengalami peningkatan signifikan dari 7,3% di tahun 2013 menjadi 13,5% di tahun 2018. Gizi lebih pada usia ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit degeneratif lainnya pada usia dewasa. Stres dan perilaku makan adalah dua faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pada remaja. Stres dapat memicu perubahan perilaku makan yang tidak sehat, seperti peningkatan konsumsi fast food, makanan dan minuman manis atau justru hilangnya nafsu makan. Stres juga dapat memicu perilaku emotional eating, yaitu dorongan untuk makan sebagai mekanisme koping saat seseorang menghadapi stres atau tekanan negatif, yang telah dikaitkan dengan IMT yang lebih tinggi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara stres, emotional eating dengan status gizi murid SMA 2 Cileungsi Kabupaten Bogor. Metode: Penelitian ini adalah studi kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September 2023 di SMA 2 Cileungsi Kabupaten Bogor. Data dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian berupa Adolescent Stress Questionnaire – Shortened Version (ASQ‑S) untuk mengetahui data stres, Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) untuk mengetahui data emotional eating, pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi responden, dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk mengetahui frekuensi konsumsi responden terhadap sejumlah makanan. Studi ini melibatkan 262 responden yang diperoleh dengan teknik Cluster Random Sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini berstatus gizi normal yaitu sebesar 66,0%, gizi kurang 8,4% dan gizi lebih 25,6%. Responden dengan kategori stres sebesar 51,9%, sedangkan 48,1% lainnya adaptif. Ditemukan sebanyak 54,6% responden masuk kategori emotional eating dan 45,4% lainnya bukan emotional eating. Berdasarkan uji bivariat diperoleh hubungan yang signifikan antara stres dengan status gizi (p-value=0,013). Tidak ada hubungan yang signifikan antara emotional eating dengan status gizi (p-value=0,647).

Stres terbukti secara signifikan berhubungan dengan status gizi.Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tingkat stres yang tinggi berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan gizi, terutama meningkatkan risiko gizi lebih pada remaja.Namun, perilaku emotional eating tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi, menunjukkan bahwa faktor lain selain emotional eating juga mempengaruhi status gizi remaja.Oleh karena itu, intervensi seharusnya difokuskan pada pengelolaan stres untuk mencegah dampak negatif pada status gizi remaja.

Berbasis temuan bahwa stres berhubungan dengan status gizi, penting untuk meneliti apakah intervensi manajemen stres berbasis teknik relaksasi dapat menurunkan prevalensi gizi lebih pada remaja di sekolah menengah. Selanjutnya, perlu diteliti secara longitudinal apakah pola makanan emosional yang belum signifikan pada hasil cross‑sectional ini berubah ketika tingkat stres meningkat selama masa ujian atau musim stres tertentu, sehingga dapat mengidentifikasi periode kritis untuk intervensi. Akhirnya, akan bermanfaat untuk mengeksplorasi peran dukungan sosial keluarga dan guru dalam memoderasi dampak stres terhadap perilaku makan, sehingga dapat mengembangkan program sekolah yang holistik yang mencakup pendidikan gizi, manajemen stres, dan peningkatan kebijakan lingkungan makanan di sekolah.

  1. The relationship between stress, emotional eating, and nutritional status in adolescents | Mardiyah |... doi.org/10.21927/ijnd.2024.12(4).252-261The relationship between stress emotional eating and nutritional status in adolescents Mardiyah doi 10 21927 ijnd 2024 12 4 252 261
Read online
File size239.27 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test