ALMAATAALMAATA

Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)

Latar belakang: Biji kakao kering ditingkat petani sebagian besar dihasilkan tanpa fermentasi tidak menghasilkan prekursor flavour khas kakao. Upaya untuk mendapatkan biji kakao kering yang memiliki prekursor flavour khas kakao dapat dilakukan apabila terdapat subtrat yang dapat difermentasi oleh mikrobia yang terlibat dalam fermentasi biji kakao segar dengan kondisi proses yang sesuai. Tujuan: Mengetahui pengaruh variasi teknik fermentasi biji kakao asalan terhadap parameter mutu biji kakao asalan hasil fermentasi, dan mengevaluasi prekursor flavour dan senyawa volatil yang dihasilkan biji kakao hasil fermentasi pasca sangrai. Metode: Tahapan penelitian yang dilakukan adalah 3 variasi teknik fermentasi yaitu pertama perlakuan tanpa penambahan inokulum (kontrol), kedua menggunakan inokulum S. cerevisiae (FNCC 3056), L. lactis (FNC 0086) dan A. aceti (FNCC 0016), masing-masing sekitar 108 cfu/g diberikan serentak di awal fermentasi (IA). Ketiga, pemberian inokulum secara bertahap yeast di awal fermentasi, bakteri asam laktat pada jam ke-24, dan bakteri asam asetat pada jam ke 48 dengan populasi mikrobia sama dengan perlakuan kedua (IB). Fermentasi dilaksanakan selama 120 jam. Suhu diatur selama fermentasi, berturut-turut 35oC (24 jam pertama), 45oC (24 jam kedua), 55oC (24 jam ketiga) dan 35oC (48 jam terakhir), Tahap ketiga, biji kakao hasil fermentasi dari tiga perlakuan tersebut disangrai dan dianalisis senyawa volatilnya. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama fermentasi biji kakao asalan menunjukan total polifenol turun pada ketiga perlakuan. Biji kakao asalan pasca fermentasi menghasilkan asam amino hidrofobik yaitu alanin, tirosin, valin, phenilalanin, isoleusin dan methionin sebagai prekursor flavor dengan total asam amino hidrofobik dimiliki oleh perlakuan penambahan inokulum secara serentak.

Rehidrasi pulp biji kakao asalan dapat memperbaiki komposisi pulp sebagai substrat fermentasi.Parameter pengujian, prekursor aroma dan senyawa volatil tertinggi ditunjukkan pada perlakuan penambahan inokulum secara bertahap.Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan inokulum secara bertahap dapat menurunkan kandungan polifenol dan meningkatkan kandungan asam amino bebas hidrofobik, yang berperan penting dalam pembentukan cita rasa dan aroma khas kakao.

Penelitian lanjutan dapat difokuskan pada identifikasi dan kuantifikasi senyawa volatil spesifik yang terbentuk selama fermentasi dengan teknik penambahan inokulum bertahap, untuk memahami kontribusi masing-masing senyawa terhadap aroma dan cita rasa cokelat. Selain itu, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan komposisi inokulum dan waktu penambahan inokulum secara bertahap, dengan mempertimbangkan jenis varietas kakao dan kondisi lingkungan fermentasi. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi potensi penggunaan mikroorganisme lokal yang memiliki kemampuan fermentasi yang lebih efisien dan menghasilkan profil aroma yang unik, sebagai alternatif pengganti inokulum komersial, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai tambah biji kakao lokal.

  1. Penurunan total polifenol, etanol, asam laktat, asam asetat, dan asam amino selama fermentasi biji kakao... doi.org/10.21927/ijnd.2017.5(1).1-8Penurunan total polifenol etanol asam laktat asam asetat dan asam amino selama fermentasi biji kakao doi 10 21927 ijnd 2017 5 1 1 8
Read online
File size133.26 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test