UNUCIREBONUNUCIREBON

COUNSELIVE: Life Counseling JournalCOUNSELIVE: Life Counseling Journal

Era Society 5.0 merupakan sebuah paradigma baru yang menekankan kolaborasi harmonis antara manusia dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Pada era ini, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan Internet of Things (IoT) tidak hanya dimanfaatkan untuk efisiensi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Dampaknya terasa di berbagai bidang seperti kesehatan, tata kota, transportasi, pertanian, industri, hingga pendidikan. Dalam konteks pendidikan, peran konselor menjadi sangat strategis, sebab mereka tidak hanya dituntut memahami perubahan sosial dan teknologi, tetapi juga mampu menyesuaikan layanan bimbingan dan konseling dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Kualitas pribadi konselor, seperti kemampuan berpikir kritis, empati digital, literasi teknologi, dan fleksibilitas adaptif, menjadi faktor kunci dalam menghadapi tantangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, laporan, dan literatur relevan yang membahas kesiapan konselor dalam menghadapi revolusi Society 5.0. Hasil kajian menunjukkan bahwa konselor perlu terus mengembangkan kompetensi profesional dan digital agar mampu memberikan layanan bimbingan dan konseling yang inovatif, efektif, serta relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat modern.

Karena kebutuhan dan permasalahan individu terus berubah seiring kemajuan zaman, konselor harus mampu menghadapinya dengan mengembangkan kualitas pribadi terutama kompetensi.0 yang menekankan teknologi menuntut konselor menjadi inovatif dan kreatif dalam mengembangkan media layanan bimbingan dan konseling.Dengan pendekatan tersebut, layanan akan berhasil memberikan kebahagiaan serta kenyamanan bagi klien tanpa menimbulkan kebosanan.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi sejauh mana kompetensi digital konselor memengaruhi efektivitas intervensi e‑counseling pada siswa SMA, dengan pendekatan kuantitatif longitudinal untuk mengukur perubahan hasil pembelajaran dan kesejahteraan psikologis. Selanjutnya, studi kualitatif dapat menyelidiki persepsi konselor mengenai tantangan etika dan privasi data dalam penggunaan platform teknologi baru, serta mengidentifikasi strategi mitigasi yang dapat diimplementasikan secara praktis. Terakhir, penelitian interdisipliner dapat mengembangkan model pelatihan berkelanjutan yang mengintegrasikan literasi teknologi, empati digital, dan kepemimpinan reflektif, kemudian menguji efektivitasnya melalui eksperimen terkontrol di beberapa institusi pendidikan, guna memastikan kesiapan konselor dalam menghadapi dinamika era Society 5.0.

  1. #kompetensi profesional#kompetensi profesional
  2. #bimbingan konseling#bimbingan konseling
Read online
File size281.6 KB
Pages7
Short Linkhttps://juris.id/p-15R
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test