MACHUNGMACHUNG

Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan IntermediaCitradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia

Tujuan dari penulisan ini untuk memaparkan dan mengritisi sajian visual pada ornamentasi yang digunakan dalam perlombaan desain batik khas Tubaba tahun 2025. Pembacaan desain visual ornamentasi dalam bentuk motif batik dilakukan pada hasil karya juara 1, 2, dan 3 pada perlombaan tersebut. Kajian ini berdasarkan standarisasi penciptaan batik, khususnya ornamentasi khas batik pesisiran. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data yang bersifat kualitatif. Analisis data berupa tahap pengumpulan data, interpretasi data, dan menentukan relasi antar data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya disparitas teknis dan penerapan estetika oleh para desainer yang berakibat pada kriteria keterpenuhan berbagai indikator yang digunakan dalam penilaian lomba batik Tubaba. Pembacaan kesesuaian kriteria ini berdasarkan pada tinjauan aspek kualitas pola batik, kejelasan corak batik, kesesuaian tema lomba dan kewilayahan batik, kemungkinan dapat dituangkan dalam berbagai teknik perbatikan seperti batik tulis, cap, maupun kombinasi keduanya, serta sifat simbolik-ornamentatif yang tidak bersifat oversimbolik.

Disparitas teknis dan estetika pada pemenang desain batik Tubaba 2025 terjadi karena tidak tercapainya beberapa indikator dasar perbatikan, seperti kualitas pola, corak, teknik aplikasi, dan aspek simbolik-ornamentatif, termasuk adanya fenomena oversimbolik pada dua desain pertama.Fenomena oversimbolik terlihat dari penggunaan aksara Lampung dan ornamen anyaman tikew secara eksplisit yang justru melemahkan narasi simbolik tunggal dalam karya batik.Desain juara ketiga menunjukkan pendekatan yang lebih matang dengan memadukan elemen lokal secara terstruktur, mempertimbangkan teknik produksi, serta menghindari kelebihan simbol, sehingga layak menjadi acuan dalam pengembangan batik khas daerah yang berkelanjutan.

Pertama, perlu penelitian tentang bagaimana standarisasi estetika dan teknik batik pesisiran dapat dirumuskan secara jelas dan dijadikan panduan nasional bagi lomba desain batik daerah, agar penilaian tidak lagi bersifat subjektif dan memperkuat keaslian bentuk tradisi. Kedua, sebaiknya dilakukan kajian komparatif mendalam terhadap integrasi motif wastra lokal seperti kain tapis ke dalam desain batik, untuk mengetahui batas antara inspirasi budaya dan pergeseran identitas seni akibat pertukaran teknik dan struktur ornamen yang tidak kontekstual. Ketiga, penting untuk meneliti pengaruh hegemoni budaya Jawa dalam persebaran motif dan teknik batik di daerah non-Jawa, khususnya dalam konteks perlombaan desain, untuk memahami bagaimana desainer daerah merespons pakem batik secara kreatif tanpa kehilangan akar budaya lokal, serta bagaimana hal ini memengaruhi pembentukan identitas batik daerah yang autentik. Penelitian-penelitian ini akan membantu menciptakan kerangka pengembangan batik yang seimbang antara inovasi dan pelestarian, serta meningkatkan kualitas kompetisi desain di tingkat lokal maupun nasional.

Read online
File size1.77 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test