ITBMITBM

Indonesian Journal of Coastal and Marine StudiesIndonesian Journal of Coastal and Marine Studies

Penangkapan ikan dasar sangat intensif sehingga diperkirakan berdampak pada kerusakan ekosistem dan perubahan populasi ikan dasar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keberadaan dan komposisi spesies ikan di area pemasangan pohon Alat Pengagregat Ikan Biologis (Bio-FAD). Penelitian ini dilakukan di perairan Tanakeke Selat Makassar pada bulan Agustus hingga September 2024. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan memasang tiga Pohon Bio-FAD di tiga stasiun. Stasiun pertama memiliki kondisi habitat tanpa lamun yang tidak dimiliki, stasiun kedua memiliki kondisi lamun yang rusak, dan stasiun ketiga memiliki kondisi habitat lamun yang baik. Pengamatan dilakukan menggunakan kamera bawah air untuk setiap stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ikan yang ada di stasiun satu adalah 17 spesies dengan total 455 individu, stasiun 2 dengan 14 spesies dengan total 293 individu dan stasiun tiga dengan 11 spesies dengan 351 individu. Keberadaan tertinggi di stasiun satu adalah ikan Siganus guttatus sebesar 22,86%, sedangkan di stasiun dua dan tiga spesies Pentapodus bifasciatus masing-masing sebesar 18,77 dan 18,52%. Stasiun satu dengan habitat tanpa lamun memberikan keberadaan sumber daya perairan yang lebih tinggi daripada stasiun lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa bio‑FADs Tree di lahan tanpa lamun menghasilkan jumlah ikan lebih tinggi dibandingkan dengan habitat dengan lamun yang rusak atau baik.Struktur bio‑FADs menjadi habitat buatan yang efektif menarik ikan, meski lingkungan alami kurang.Potensi teknologi ini dapat dipakai sebagai strategi pelestarian dan peningkatan produktivitas perikanan di kawasan yang mengalami degradasi habitat.

Pertama, lakukan studi longitudinal selama dua tahun untuk menilai dampak jangka panjang bio‑FADs Tree terhadap biomassa ikan dan struktur komunitas, sehingga data dapat diuji validitasnya di musim monsoon dan non‑monsoon. Kedua, uji variasi penarik alami (misalnya jenis lumut atau karang mini) pada bio‑FADs Tree untuk menentukan kombinasi penarik yang paling optimal dalam menarik spesies endemik dan mengurangi kerusakan habitat sekitarnya. Ketiga, integrasikan pemantauan satelit dan sensor suhu kedalaman untuk memetakan korelasi antara variabel fisik laut dan distribusi ikan di bio‑FADs, sehingga dapat dikembangkan model prediksi agregasi ikan yang berbasis data real‑time. Penelitian-penelitian ini akan memperkuat rekomendasi kebijakan konservasi dan membantu nelayan mengoptimalkan hasil tangkapan tanpa menambah beban terhadap ekosistem perairan Makassar Strait.

Read online
File size353.66 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test