UIN SUSKAUIN SUSKA

Jurnal PsikologiJurnal Psikologi

Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan perilaku positif yang dapat dimunculkan dengan faktor religiusitas dan kualitas kehidupan kerja organisasi. Tujuan penelitian ini ingin melihat pengaruh Religiusitas dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Perilaku baik warga organisasi (OCB). Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan yang bekerja di Universitas Islam Negeri Sultan Syarim Kasim Riau Pekanbaru pada empat fakultas sebanyak 69 orang. Data hasil penelitian ini dikumpulkan menggunakan beberapa skala, diantaranya skala Organizational citizenship behavior (OCB) dari Podsakoff (2001). skala Religiusitas yang berdasarkan teori Glock dan Stark (1994), skala kualitas kehidupan kerja dari Cascio (2003). Teknik yang digunakan untuk menganalisa data adalah teknik analisis regresi ganda. Hasil pengujian hipotesis penelitian ini menghasilkan nilai F sebesar F=3,220 dengan nilai signifikansi p=0,047, p ≤ 0,05 artinya religiusitas dan kualitas kehidupan kerja dapat memprediksi OCB karyawan. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat berkembang dengan adanya religiusitas dan kualitas kehidupan kerja yang baik dari karyawan.

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara religiusitas dan kualitas kehidupan kerja dengan Perilaku baik warga organisasi (OCB) pada karyawan UIN Suska Riau.Berdasarkan hal ini bahwa perilaku baik warga organisasi dapat dikembangkan dalam diri individu dengan meningkatkan keyakinan yang tinggi pada karyawan terhadap agamanya dan meningkatkan kualitas kehidupan kerja pada karyawan.

Penelitian ini telah mengungkap hubungan penting antara religiusitas dan kualitas kehidupan kerja dengan Perilaku Baik Warga Organisasi (OCB), namun ada beberapa celah yang menarik untuk studi lanjutan. Pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi religiusitas seperti ritual, ideologis, intelektual, dan konsekuensi tidak berkorelasi dengan OCB, sementara dimensi pengalaman justru berpengaruh. Oleh karena itu, penelitian kualitatif mendalam sangat diperlukan untuk memahami secara komprehensif mengapa karyawan membedakan antara praktik keagamaan formal dan perilaku sukarela di tempat kerja, serta bagaimana pengalaman religius secara spesifik memotivasi OCB. Studi ini dapat menggali perspektif karyawan tentang hubungan muamalah dan ibadah dalam konteks profesional mereka. Kedua, untuk meningkatkan validitas eksternal dan generalisasi temuan, penelitian berikutnya sebaiknya memperluas cakupan subjek dan konteks organisasi. Ini bisa dilakukan dengan melibatkan sampel yang lebih besar dari berbagai fakultas atau departemen, bahkan membandingkan karyawan di institusi pendidikan keagamaan dengan lembaga non-keagamaan. Pendekatan ini akan membantu mengidentifikasi faktor-faktor kontekstual yang mungkin memoderasi atau memediasi hubungan antara religiusitas, kualitas kehidupan kerja, dan OCB. Ketiga, mengingat OCB karyawan masih dalam kategori sedang, studi intervensi menjadi krusial. Desain quasi-eksperimental dapat diterapkan untuk menguji efektivitas program-program yang dirancang khusus. Misalnya, mengembangkan pelatihan yang menekankan integrasi nilai-nilai agama dalam etos kerja sehari-hari atau program peningkatan kualitas kehidupan kerja yang berfokus pada dimensi-dimensi yang terbukti berpengaruh. Mengukur perubahan OCB setelah intervensi akan memberikan panduan praktis untuk pengembangan sumber daya manusia.

Read online
File size267.99 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test