STAINUSANTARASTAINUSANTARA

Jurnal Ikhtibar NusantaraJurnal Ikhtibar Nusantara

Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Ini sesuai dengan sabda yang disampaikan oleh panutan orang Islam, Nabi Muhammad SAW : بلطا دهللا ىلا دهملا نم ملعلا “Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat. Atau ولو ملعلا بلطا نيصلاب“Carilah ilmu walau ke negeri Cina Belajar bertujuan sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita seutuhnya sebagai makhluk yang beradab dan manusia yang kreatif serta memiliki inovasi untuk maju. Dalam surat Al-Alaq, Allah Swt memerintahkan kita agar menuntut ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah Swt tersebut; yaitu Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua, berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kata qalam yang dapat kita artikan sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita kepada generasi penerus. Dengan demikian akan tumbuh dan berkembangnya kesadaran agama(relegious consciousness ) dan akan mendapatkan pengalaman agama(religious experience) yang memadai. Pada dasarnya setiap kebaikan yang akan kita lakukan, apalagi untuk belajar haruslah didasari dengan niat yang bersih dan tulus. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw riwayat Umar Ibnu Khattab ra yang berbunyi : اَيْنُدِل ُهُت َر ْجِه ْتَناَك ْنَم َو ،ِهِل ْوُس َر َو ِالله ىَلِإ ُهُت َر ْجِه َف ِهِل ْوُس َر َو ِالله ىَلِإ ُهُت َر ْجِه ْتَناَك ْنَمَف ى َوَن اَم ٍئ ِر ْما ِّ نِلاِب ُلاَمْعَلأْا اَمَّنِإ لِكِل اَمَّنِإ َو ِتاَّيِّ ِهْيَلِإ َرَجاَه اَم ىَلِإ ُهُت َر ْجِهَف اَهُحِكْنَي ٍةَأ َر ْما أْوَ اَهُبْي ِصُي Artinya :“Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah (dinilai) kepada apa yang menjadi tujuannya hijrahnya, (H.R. Bukhari dan Muslim).

Islam menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat yang didasari niat tulus untuk meraih ridha Allah, mengamalkan ilmu, serta mengajarkannya, sesuai ajaran KH.Syaikh al-Zarnuji juga menegaskan bahwa niat dalam belajar adalah fundamental, mengarahkan pada kebahagiaan akhirat, pemberantasan kebodohan, serta pemeliharaan agama dan Islam.Oleh karena itu, penataan niat yang benar bagi pelajar sangat esensial agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat.

Penelitian ini secara konseptual telah mengupas pentingnya niat belajar yang didasari oleh pengalaman dan kesadaran religius dalam mencapai efektivitas belajar, terutama dari sudut pandang Islam. Namun, studi lanjutan diperlukan untuk memberikan bukti empiris yang lebih kuat dan panduan praktis. Pertama, untuk menguji lebih lanjut temuan konseptual ini, penelitian dapat menyoroti hubungan antara pengalaman religius individu, tingkat kesadaran religius mereka, dan bagaimana kedua aspek ini secara konkret mempengaruhi pembentukan niat belajar serta hasil efektivitas belajar di berbagai jenjang pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dengan survei skala besar atau studi kasus yang mendalam. Kedua, mengingat bahwa niat belajar yang kuat sangat krusial, studi intervensi bisa dirancang untuk mengeksplorasi pengembangan modul atau program pendidikan berbasis nilai-nilai keagamaan. Pertanyaan penelitiannya adalah, seberapa efektif program semacam itu dalam menumbuhkan niat belajar yang tulus dan berkelanjutan, serta apakah ada perbedaan signifikan dalam efektivitas belajar pada kelompok yang mengikuti program tersebut dibandingkan dengan kelompok kontrol. Terakhir, untuk memahami dinamika internal yang lebih kompleks, penelitian kualitatif dapat menggali secara mendalam pengalaman subjektif peserta didik dalam menginternalisasi niat belajar yang dipengaruhi oleh dimensi spiritual dan religius. Ini termasuk memahami bagaimana mereka menghadapi tantangan, mempertahankan motivasi, dan memaknai proses belajar sebagai bentuk ibadah atau pengabdian, memberikan perspektif kaya yang melengkapi temuan kuantitatif.

Read online
File size1.33 MB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test