IKIP SILIWANGIIKIP SILIWANGI

Comm-EduComm-Edu

Tatanan kehidupan manusia dalam hirarki budi pekerti banyak mengalami kemerosotan nilai-nilai moralitas dan kedisiplinan yang berakibat pada rendahnya akhlak dan hilangnya sopan santun. Kondisi teknologi yang semakin maju telah mendorong berkembangnya kecerdasan intelektual dengan pengetahuan teknis namun ironisnya dengan pemahaman pengetahuan agama. Padahal, pengetahuan agama dapat mempengaruhi pembentukan karakter manusia melalui psikomotorik. Kognisinya diisi dengan pengetahuan agama dan afeksinya diisi dengan keimanan. Kemampuan psikomotorik merupakan bagian biologis terpenting dalam proses pembentukan akhlak melalui pendidikan karakter. Dengan menggunakan model pembelajaran pesantren yang berupa model total quality management. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas produk pendidikan sehingga mencapai hasil yang sesuai dengan standar mutu. Indikator yang diharapkan dalam pendidikan pesantren adalah memiliki standar baku pencapaian mutu berupa akhlak mulia.

Penerapan pembelajaran berbasis Total Quality Management (TQM) memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan kecerdasan emosional santri di pesantren.TQM menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pengembangan emosional melalui pendekatan sistematis, perbaikan berkelanjutan, dan partisipasi aktif.Pembelajaran berbasis TQM mampu meningkatkan pengelolaan emosi, kerja sama, tanggung jawab, serta membangun kepercayaan diri dan motivasi perbaikan diri secara terus-menerus.

Pertama, perlu dikaji lebih dalam bagaimana penerapan TQM dalam pembelajaran pesantren dapat disesuaikan dengan karakteristik generasi muda digital, termasuk penggunaan teknologi informasi dalam proses pembinaan kecerdasan emosional secara terpadu. Kedua, penting untuk mengeksplorasi model evaluasi berkelanjutan yang tidak hanya mengukur perkembangan akademik, tetapi juga mencakup indikator psikososial dan spiritual santri dalam kerangka TQM. Ketiga, perlu dilakukan penelitian komparatif terhadap penerapan TQM di berbagai jenis pesantren (salafiyah, khalafiyah, dan modern) untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi efektivitas peningkatan kecerdasan emosional, sehingga dapat dirumuskan model yang adaptif dan scalable. Penelitian lanjutan juga sebaiknya menguji integrasi prinsip TQM dengan kurikulum nasional dan kebutuhan dunia kerja masa depan. Selain itu, penting untuk menelaah peran pengasuh dan ustadz sebagai agen perubahan dalam implementasi TQM secara konsisten. Studi tentang dampak jangka panjang dari pembelajaran berbasis TQM terhadap perilaku sosial santri setelah lulus dari pesantren juga layak dilakukan. Penelitian bisa dirancang untuk mengukur perubahan kecerdasan emosional secara kuantitatif sebelum dan sesudah implementasi TQM. Pendekatan mixed method bisa digunakan untuk memperkaya temuan kualitatif dengan data kuantitatif. Fokus pada konteks pesantren yang berbeda secara geografis dan sosial budaya akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Dengan demikian, temuan penelitian dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan pendidikan karakter yang berkelanjutan dan berbasis bukti.

Read online
File size176.78 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test